Bijak Menggunakan Antibiotik

Di sessi ke-4 Pesat 4, Sabtu, 19 Nopember kemarin, yang berlangsung di Hotel Pradana, Ragunan, Jakarta Selatan, mengulas tentang Penggunaan Antibiotika dengan Bijak (Pak Syamsul), Bahaya Resistensi Antibiotika (dr. Purnawati, SpAK, MMPed), dan Batuk Asma (dr. Arifianto).

Acaranya bagus. Jadi bikin ibu tambah melek tentang obat-obatan, juga tentang kesehatan anak-anak. Seperti kata dr. Wati tercinta, jadilah Smart Parents, tahu apa yang musti dilakukan saat menghadapi anak sakit (gak keburu-buru kedokter gitu) dan bijak dalam menggunakan obat-obatan.

Karena panjang bahasannya, Ibu bikinnya bersambung aja yah…he…he… Yang pertama ini aja dulu, karena paling nempel diotak🙂

Kita pasti tahu atau sering dengar istilah antibiotik. Ternyata antibiotik itu gak hanya untuk obat-obatan lho, tapi juga bisa untuk pembersih lantai. Coba deh kerumah sakit, baunyanya itu lho, menurut dr. Wati, kebanyakan lantai di rumah sakit, dibersihkan dengan antibiotik karena memang disana banyak terdapat kuman penyakit.

Nah, kalau ada rumah yang suka pakai pembersih lantai, coba deh periksa apa ada antiseptik di pembersih lantainya. Karena antiseptik tidak diperlukan dirumah, sebab kuman-kuman yang berada dirumah tidak sejahat yg ada di rumah sakit.

Virus tidak dapat dibunuh oleh antibiotika tetapi oleh sistem kekebalan tubuh. Dan keliru jika menganggap bakteri itu jahat. Sebab bakteri didalam pencernaan berfungsi :
1. Mengubah makanan menjadi nutrisi
2. Memproduksi B & K
3. Memperbaiki sel dinding usus yang tua dan rusak
4. Merangsang gerak usus – tidak mudah konstipasi
5. Menghambat berkembangnya bakteri jahat – bagian dari sistem imun tubuh.

Penggunaan antibiotik itu dibagi 2 yaitu :
– Narrow Spectrum (digunakan untuk membunuh jenis bakteri tertentu). AB jenis ini adalah ampicilin dan amoxycilin.
– Broad Spectrum, membunuh semua jenis bakteri. Jenisnya : Cephalosporin generasi 3 dan 4. Hindari pemakaian AB jenis ini.

Dampak negatif AB :
1. Gangguan saluran cerna : diare, mual-mual, dehidrasi
2. Demam (drug fever).
3. Gangguan darah
4. Reaksi alergi
5. Kelainan hati
6. Gangguan fungsi ginjal.
7. Bagi ibu hamil, penggunaan AB dapat mempengaruhi janin
8. Bakteri resisten.

Kapan kita bisa menggunakan AB :
– Pada penyakit tonsilitis (radang amandel)
– Demam
– Diare

Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan kuman yang tidak terbunuh mengalami perubahan diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan antibiotik. Kuman ini disebut “superbugs”. Selain itu, “superbugs” juga sering lolos dari serangan sistem imun tubuh karena perubahan diri tersebut menyebabkan sistem imun tidak dapat lagi mengenali si kuman.

Semakin sering mengkonsumsi antibiotik, semakin besar kemungkinan terinfeksi bakteri resisten dan semakin sering jatuh sakit. Infeksi karena bakteri resisten lebih sulit disembuhkan, lebih lama sakit, butuh antibiotika yang lebih kuat dan butuh biaya pengobatan lebih mahal.

Untuk mencegah resistensi AB
– Tidak menuntut dokter meresepkan antibiotika jika tidak perlu
– AB termahal, terkuat, bukan berarti yang terbaik
– Konsumsi antibiotika sesuai anjuran dokter
– cuci tangan dengan sabun ; cegah penularan
– cuci makan dengan benar
– rebus makanan sampai matang
– tidak menggunakan antiseptik untuk pembersih lantai.

Buat dokter :
– Cuci tangan selesai periksa pasien
– tidak memberi AB untuk infeksi virus
– jangan langsung memakai broad spectrum
– isolasi pasien yang terinfeksi kuman resisten
– update informasi pola kuman yang resisten.

Nah segitu dulu deh, ntar disambung lagi sama Ibu tentang batuk dan asma. Oh yah, disesi ini akhirnya ibu ketemuan sama dr Arifianto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s