Sibling Rivalry ?!

Kadang Ibu suka desperado kalau Kak Lily suka bilang, “Ibu sekarang lebih sayang sama Kayla”, “Ibu jahat marah-marahin aku terus”, atau “Kok kalau de’ Kayla sakit dibawa ke dokter, kalau aku yang sakit cuma disuruh minum obat”.

Padahal Kayla dibawa ke dokter cuma untuk imunisasi, Kak Lily disuruh minum obat karena sakitnya cuma batuk pilek. Sudah dijelasin bahwa waktu seumur dede Kayla, Kak Lily juga selalu ke dokter untuk imunisasi karena itu penting buat kesehatan. Tapi biar udah dijelasin panjang lebar dan mengangguk-angguk seperti mengerti, tetap saja anak perempuan ibu yang sekarang udah berumur 5,5 tahun itu tetap suka mengulang-ulang perkataan itu jika dia merasa gak sreg😦

Ternyata bukan hanya ibu lho yang ngalamin seperti itu, banyak juga ibu yang punya anak lebih dari satu. Kalau kata Ompung Boru sih, biasalah anak itu suka ngiri sama saudaranya yang lain. “Makanya jangan terlalu dekat jarak anaknya”, kata Ompung Boru waktu itu.

Tapi tetep aja, walau Kak Lily gak terlalu dekat jaraknya sama de’ Kayla, masih suka ngiri tuch sama adiknya. Yang Ibu senang dari Kak Lily, dia gak usil sama adiknya. Gak pernah cubit atau mukul adiknya, tapi kalau bikin nangis sih tetep deh…he…he….

Nah, hari Minggu kemarin, Ibu baca Kompas, trus ada uraian dari Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, tentang Sibling Rivalry (Persaingan antar saudara). Membaca uraian Dr. Sawitri, Ibu berkaca pada diri sendiri, apakah Ibu sudah benar memperlakukan dua gadis kecil kami ?

Seperti ini uraiannya :

Menurut Dr. Sawitri, Sibling rivalry adalah persaingan antarsaudara kandung dalam memperebutkan kasih sayang dan perhatian orangtua yang telah dirasakan saat anak berusia tiga tahun. Berebut mainan, berebut tempat untuk bisa lebih dekat dengan ayah atau ibu, berebut kue, berebut kesempatan memainkan sesuatu, dan sebagainya.

Saat melerai perkelahian anak dalam ajang perebutan ini orangtua akan tanpa sadar menempatkan salah satu anak sebagai yang dikalahkan atau yang dimenangkan. Namun, saat penanganan kasus sibling rivalry, bila ditanya orangtua akan menjawab, ”Mana ada sih orangtua yang membenci dan membedakan anak yang keluar dari rahim yang sama?” (Nah ini sering banget Ibu bilang sama Ayah, kalau Ibu lagi berkeluh kesah sama Ayah, yang cuma senyam senyum gak kasih solusi)

Dalam memberi perhatian kepada anak sebenarnya ada dua hal yang terlibat, yaitu dedikasi material dan dedikasi emosional. Orangtua akan mengatakan, setiap membeli mainan, pakaian, peralatan sekolah, akan dibeli dua buah yang sama (dedikasi material). Hanya cara memberikan benda tersebut, kesempatan memilih duluan, atau tanggapan orangtua terhadap reaksi emosi anak saat menerima pemberian, akan berbeda dari satu anak ke anak yang lain (dedikasi emosional).

Perbedaan itu sangat dipengaruhi oleh karakter mental spesifik anak, seperti apakah anak tertutup atau ceria, karakteristik fisik (lebih cantik dengan rambut bergelombang, lurus, kulit yang kelam, kulit kuning langsat, dan seterusnya).

Perbedaan perlakuan yang terkait dengan dedikasi emosional inilah yang sering dirasakan anak yang merasa selalu dikalahkan. Rasa cemburu, benci, dan jengkel berlanjut akan terpendam. Perasaan negatif ini ternyata dibawa hingga masa dewasa kelak. Rasa benci dalam dimensi a-sadar biasanya mendapat dukungan dari dorongan agresi yang memang merupakan dorongan dasar setiap manusia, yang seyogianya mampu dikendalikan dan dikelola dengan baik.

Perlu disimak bahwa kebencian dan kecemburuan yang hingga dewasa tidak teratasi dan bercokol dalam hati sanubari seseorang menjadi bibit ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi munculnya iri hati beserta eksesnya secara berlanjut terhadap teman, rekan kerja, yang berkembang menjadi persaingan tidak sehat saat mereka masuk dalam lingkup kerja dan pergaulan sosial lebih besar kelak.

Mereka tidak mampu menerima kekurangan diri dan tidak mampu beradaptasi sosial dengan baik. Keberhasilan orang lain akan selalu menjadi ancaman bagi diri yang membuka peluang berkembangnya perilaku destruktif sosial.

Kondisi psikologis tidak terkelolanya ekses sibling rivalry dapat menghambat peraihan sukses karier karena ia akan menutup mata pada keberhasilan rekan kerja yang sebenarnya dapat digunakan sebagai motivator peningkatan kualitas kerja. Apalagi bila kariernya ditentukan oleh keberhasilan bekerja dalam satu tim.(dikutip dari Kompas Minggu, 11 Desember 2005).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s