Memoar Menjelang Satu Tahun De’ Kayla

Hai apa kabar dunia ? Alhamdullilah saat ini kami sekeluarga sehat dan bahagia selalu🙂

Yang menggembirakan nih, sebentar lagi, tepatnya tanggal 18 Desember 2005, de’ Kayla berusia satu tahun. Alhamdulillah sehat, semakin pinter, cantik, lucu, dan banyak gaya…he…he…(maaf yah kalau narsis, maklum anak sendiri).

Gak terasa, perasaan ibu baru kemarin bawa-bawa perut ndut kemana-mana, naik kereta, naik mobil, naik motor (sampai dibilang amot a.k.a anak motor sama temen-temen ibu), naik bis, naik angkot. Perasaan, belum lama ngeliat bayi merah yang tiap satu jam tidur (sampai-sampai Tulang Wahyu takut karena de’ Kayla gak banyak bergerak..he…he..), tau-tau sekarang kebanyakan main, ngoceh dan bisa ngambek.

Oh yah, menjelang satu tahunnya de’ Kayla, ibu mau kasih memoar sedikit nih tentang kehadiran de’ Kayla.

Waktu hamil de’ Kayla, beda dengan waktu ibu mengandung Kak Lily. Sampai usia kehamilan 9 bulan, ibu muntah terus, males makan, males kemana-mana (ke kantor aja terpaksa….he…he..), trus pengennya naik kereta api terus, dipijitin ama ayah terus, dan ngerujak terus.

Kehamilan kedua ini, pengennya Ayah si kalau Allah kasih anaknya laki-laki karena yang pertama dah perempuan. Cuma Ibu sih dah feeling, anaknya bakalan perempuan lagi, soalnya Ibu hobby nonton telenovela…wakakak..:D

Seperti halnya Kak Lily, Ibu juga memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, tapi karena sekarang tinggalnya di Bekasi Utara, Ibu juga periksa di Bidan Tien Rustini, yang deket rumah, supaya kalau ada apa-apa bisa ditangani.

Sama dr Sunarto, de’ Kayla diperkirakan akan lahir tanggal 25 Desember. Asyik juga yah pas natalan…he…he.. Cuma karena anak pertama alias Kak Lily lahir lebih cepat (10 hari) dari due datenya, dr Narto juga memperkirakan de’ Kayla bisa lahir lebih cepat. Kata dr Narto, posisi kepala bayi sudah dibawah dan siap untuk melahirkan secara normal, seperti waktu kelahiran Kak Lily.

Setelah habis cuti lebaran, Ibu masuk kantor dan dua minggu kemudian rencananya baru akan ijin cuti melahirkan. Seminggu setelah masuk, pas chek up lagi sama dr Narto, disaranin untuk ambil cuti aja karena Ibu udah kelihatan kelelahan. Nah, untuk antisipasi itu, Ayah sudah ngerencanain untuk ngungsiin Ibu, Kak Lily dan Mbak Iyah kerumah Ompung di Daan Mogot, karena jarak ke RSB Budi Kemuliaan lebih dekat.

Hari Senin tanggal 13 Desember 2004, Ibu masuk kantor untuk ijin cuti melahirkan. Sama Pak Benny, Ibu ditanya kapan melahirkannya, kemungkinan tanggal 18 atau 25 Desember 2004, jawab Ibu.

Akhirnya Ibu cuti. Duh senengnya Kak Lily karena tiap hari bisa dianterin kesekolah sama Ibu. Bisa ditemenin main, belajar, pokoknya kolokan banget deh. Seakan mau mengatakan nanti kalau dah ada adik, perhatian terbagi…he…he…

Pas tanggal 18, hari Sabtu, sekitar pukul 08.30 WIB, sewaktu Ibu buang air kecil, ada flek-flek darah begitu, berdasarkan pengalaman waktu Kak Lily, Ibu ngerasa jangan-jangan udah mau melahirkan nih. Ibu terus telepun kerumah Ompung dan ngomong sama Ompung Guru. Katanya itu memang tanda-tanda melahirkan, trus Ibu disuruh langsung ke bidan, sementara Ompung siap-siap mau kerumah.

Ditemenin Ayah (Alhamdulillah sesuai keinginan Ibu, ayah ada dirumah seperti waktu melahirkan Kak Lily), Ibu pergi ke Bidan. Ternyata disana, Bidan Rustini lagi ke RS Mitra Keluarga, trus sama asistennya diperiksa dan katanya udah pembukaan satu.

“Udah mules blum ?, tanya asistennya.
“Belum”, jawab Ibu.
“Rumahnya deket kan ? Pulang aja deh dulu nanti sekitar jam 3 atau kalau sudah mules datang lagi kesini,” kata asistennya.
“Tapi saya pipis..pipis terus suster”, kata Ibu.
“Gak apa-apa itu”, jawab asisten.

Akhirnya Ibu dan Ayah pulang. Karena dibilang lahirnya masih lama, Ibu masak aja, sementara Ompung Guru telepon terus. Ompung heran kok Ibu belum ke bidan. Ibu bilang udah tapi disuruh pulang dulu.

“Kok begitu sih. Itu yang keluar bisa-bisa air ketubanmu. Hati-hati jangan sampai kehabisan, nanti anakmu bahaya”, kata Ompung Guru.
“Nanti kalau Bapak sampai kamu langsung ke Budi Kemuliaan saja,” perintah Ompung.

Dikasih tahu begitu, Ayah sama Ibu jadi was-was, dan kembali ke Bidan. Lagi-lagi sama asisten tuh bidan disuruh pulang. Katanya kok ibu gak percaya sih sama omongan dia.

Sampai dirumah, ternyata Ompung Doli dan Om Ali udah dirumah. Tanpa ba..bi…bu, Ompung Doli langsung perintahin Ibu ke RS. Sama Kak Lily, Ibu pun boyongan, sementara Ayah menyusul karena musti minta ijin ke sekolah Kak Lily. Mbak Iyah gak dibawa, untuk jaga rumah. Entah kenapa, dalam perjalanan di tol, macet benar dan Ibu terus ngeluarin air. Kita berangkat dari rumah pukul 11.00

Sampai di RSB Budi Kemuliaan sudah sekitar pukul 13, Ibu langsung dibawa ke UGD. Trus diperiksa ternyata udah bukaan kedua. Karena gak mules, Ibu disuruh chek EKG, dan ternyata bayinya males bergerak. Ibu langsung masuk ruang bersalin dan dikasih oksigen. Trus ditanya-tanya segala macam yang bikin ibu pusing. Kemudian Ibu ditinggalin sendiri, gak lama Ompung Guru masuk, trus ngomong :

“Kamu harus tabah yah. Air ketubanmu sudah hijau. Anakmu juga terlilit tali pusar. Anakmu gak bergerak. Jadi kamu harus dioperasi”, kata Ompung Guru.

Whuaaaa…..Ibu langsung nangis saat itu juga. Ibu merasa egois dan bodoh, kenapa gak nurutin Ompung Guru langsung ke rumah sakit. Ibu takut nanti dede bayi gak ada. Ompung Guru pun ikut nangis, mungkin gak nyangka bakalan begini jadinya.

Ompung Doli masuk dan sempat marah karena Ayah belum sampai juga katanya sih kena macet. Dan terpaksa ijin operasi ditandatangani sama Ompung Doli.

Lihat Ibunya nangis terus, Kak Lily juga ikut nangis. Yang bikin Ibu terharu, Kak Lily bilang, Bu aku sayang Ibu dan dede. Sehat yah Bu, nanti aku jagain deh,” katanya sambil ngelus-ngelus kepala Ibu.

Akhirnya sekitar pukul 13.45, Ibu masuk ruang operasi. Ayah belum datang juga. Ibu operasi ditungguin diluar sama Ompung Doli, Ompung Guru, Kak Lily, Om Ali, Tulang Ari dan Tante Ida.

Seingat Ibu waktu dioperasi dokternya ada 3, tapi yang Ibu ingat cuma dr Narto. Trus ada 3 orang perempuan yang bantuin. Yang Ibu ingat, saat itu ibu diajak ngomong terus sama orang dokter, ditanya macam-macam, trus dia cerita yang lucu-lucu, yang bikin Ibu pengen ketawa tapi ngak bisa.

Akhirnya : “Bu ini anaknya udah lahir. Perempuan lagi yah bu”.
“Alhamdulillah. Bisa saya liat dokter,” kata Ibu yang terus dikasih de’ Kayla yang ditaruh diatas badan. Ibu langsung cium de’ Kayla. “Terima kasih yah Allah, Kau berikan kembali anugerah terindah buatku”, ucap Ibu dalam hati.

“Setelah itu Ibu dan de’ Kayla masuk ruang pemulihan. Entah berapa lama, yang jelas Ibu baru bisa ketemu Ayah, Ompung Guru dan saudara-saudara sekitar pukul 19.

Ayah minta maaf gak bisa nemenin Ibu. Ompung Guru, yang nemenin, waktu lihat bayinya, ngomong. “Eh anakmu kulitnya putih lho. Kok keriting banget. Mukanya juga batak…he…he…”, kata Ompung Guru.

Yah begitulah, akhirnya bayi merah tersebut diberi nama Tiurma Kayla Puspitarani Kurniawan. Tiurma dari bahasa Batak yang artinya sinar terang karena de’ Kayla lahir tepat pukul 14.02, saat matahari bersinang terang. Sementara Kayla itu Kak Lily yang kasih karena dia seneng sama namanya Kayla (ada temennya yang punya nama Kayla…he….he), sementara Puspitarani, karena Kak Lily sudah Puspitasari, atau bisa juga dibilang puspita itu artinya bunga. Jadi kalau bisa dikatakan bunga yang warnanya menarik. Yang jelas de’ Kayla diharapkan bisa menjadi perempuan yang memiliki kesholehan yang bersinar dan menarik. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s