Gambate Ara !

Postingan kali ini agak berbeda karena mau cerita tentang sepupu Lily dan Kayla yang bernama Ara, anak cowo gendut yang jago makan dan pinter ngeles…he…he…. Batara Adi Pratama atau akrab dipanggil Ara, adalah anak pertama dari adik kedua perempuan Ibu (Tante Ida, yang bisa dibilang kakak paling atas dari Tulang Wahyu).

Kenapa ceritanya kali ini tentang Ara, karena sudah kedua kalinya Ibu mimpiin Ara. Bukan mimpi yang bagus dan sempet bikin Ibu nangis, sampai-sampai kata Ayah, itu karena Ibu terlalu mikirin Ara. Bisa jadi itu bener, Ibu terlalu mikirin Ara.

Saat ini perhatian keluarga besar S. Sibarani memang lagi terpusat pada Ara dan adiknya Hilo Amelia. Kita memang tidak pernah mau berpikiran buruk, tapi yang jelas keluarga selalu berdoa, agar Ara dan Amel, selalu mendapatkan yang terbaik.(duh nulis begini aja rasanya udah mau menangis…hiks…hiks).

Ara, adalah cucu laki-laki satu-satunya dari 5 cucu Ompung Doli. Nama Batara diberikan Ompung Doli, yang artinya pemimpin besar. Ompung berharap Ara suatu saat menjadi orang yang berguna dan membanggakan keluarga.Amiin…

Semua cucu Ompung memang mendapatkan nama khas Batak. Misalnya aja, Ririn (cucu pertama) dikasih nama Rintar (yang katanya permulaan yang baik), trus Batara, Taruli untuk Lily (yang artinya cantik), Tiurma untuk Kayla (yang artinya bercahaya, terang), Hilo untuk Amelia, nah ini sampai sekarang Ibu lupa terus artinya apa…he…he…

Lanjut cerita tentang Ara. Ara lahir 9 September 1999 di RS Budi Kemuliaan (tempat lahir Lily, Kayla dan Amel juga). Ara lahir sebelum waktunya yaitu umur 8 bulan karena mamanya jatuh kedalam got trus ketubannya pecah, akhirnya terpaksa dicaesar. Kelahiran Ara disambut meriah semua keluarga Ompung Doli dan keluarga papanya Ara.

Ara kemudian tumbuh besar dan menggemaskan, karena badannya yang gemuk, kulit putih dan rambut kriwul (waktu kecil, Ara mirip de’ Kayla). Karena rumahnya di Kosambi, deket dengan rumah Ompung Doli, Ara lebih banyak tinggal dirumah Ompung Doli. Tapi sejak bersekolah, hanya Sabtu – Minggu di rumah Ompung.

Ara itu anaknya kritis dan selalu ingat apa yang dibicarakan orang dewasa. Makanya kalau mama dan uwaknya ngumpul, jarang mau bergosip didepan Ara dan Lily, karena mereka suka ikutan nimbrung…he…he…

Ara itu kesayangan Ompung Doli, pastinya. Karena itu, jika terjadi apa-apa sama Ara, pasti Ompung Doli, yang kalang kabut. Seperti sewaktu berumur 2 tahun, Ara sempet diopname di Rumah Sakit Harapan Kita, karena sakit infeksi perut. Ompung Doli juga paling gak bisa nolak kalau Ara minta uang. Gak tanggung-tanggung, Ara minta duitnya bisa Rp 5000…he…he…

Kalau nginep di rumah kami, Ara itu jadi anak kesayangan Ayah (maklum, sesama lelaki jadi suka main PS bola bareng..he… he..). Ara panggil Ayah, Pakde, karena Ayah gak mau dipanggil uwak. Kata Ayah, dia kan orang Jawa🙂

Oh ya, Ara ini hobbynya main PS dan sepeda. Kalau main PS, suka lupa makan, mandi, belajar, dan lain-lain. Makanya dirumahnya gak ada PS. Adanya cuma dirumah Ompung Doli dan Lily, jadi dia mainnya kalau datang kerumah Ompung dan Lily aja.

Karena usianya gak terlalu beda jauh dengan Lily (17 Juli 2000), bisa dibilang Ara lebih deket sama Lily, dibanding saudara sepupunya yang lain. Kalau naik sepeda berdua nih, Lily gak dibonceng dibelakang, tapi didepan. Kata Ara, karena Uli (Lily dipanggil Uli sama Ara dari Taruli) kurus jadi enteng..he…he..

Ara juga pinter lho kalau disuruh dan cepet, gak pernah pakai kata entar. Bisa dibilang mandiri. (mungkin karena keadaan….) Soal minta duit, Tulang Wahyu punya cerita yang ditulis di blognya :

Ara ; Tulang, minta duit dong.

Saya ; Berapa?

Ara ; Sepuluh ribu

Saya ; Lho kok banyak banget kemarin cuma lima ribu

Ara ; Kan bbm naik tulang

Saya ; ???

Ada cerita juga :

“Terakhir ponakan gue yang satu ini bikin ulah kabur dari rumah dan melarikan diri ke rumah Ompungnya. Bayangin, anak yang masih kecil ini naik sepeda dari rumahnya di Kosambi, ke rumah Ompungnya yang ada di Grogol.

Karena jalannya jauh, Ara ternyata tidak kuat bersepeda. Namun, otaknya masih cerdas juga. Dia langsung mendatangi tukang ojek minta dianterin ke rumah Ompung. Beruntung saat itu Tukang Ojek masih banyak yang baik-baik. Kalau enggak, saya enggak tahu bagaimana dengan nasib Ara sekarang.”

Namun diantara semua itu, diusianya yang belum genap 7 tahun, ia sudah mendapat cerita kehidupan yang cukup berat untuk anak seusianya. Tapi tak sekalipun Ara terlihat menangis. Ara bahkan selalu memberikan bahunya untuk sandaran. Ara selalu menjadi pahlawan pembela, tapi tak pernah menghukum. Bahkan Ara tak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kecuali jika ditanya. Itupun terkesan melindungi orang-orang yang dicintainya.

Itulah Ara, kecintaanya pada sang mama, semoga tak luntur ditelan jaman. Hormatnya pada Papa, tetap harus dipertahankan. Yang pasti, cinta kami seluruh keluarga akan selalu menyertai Ara. Ibu juga berharap agar Ara tetap ceria dan seperti bahasa Jepang, Gambate ! Tetap Semangat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s