Mandiri dan Aktif ?

Sabtu, 22 Juli 2006, kemarin, Ibu Guru Siti, mantan guru kelas Kak Lily di kelas B 2 TK Bani Saleh 1, datang kerumah. Ibu Siti datang untuk silahturahmi, karena sejak Kak Lily berhenti les calistung menjelang lulusan TK, kira-kira bulan Mei, sudah lama tidak berkunjung kerumah.

Bu Siti tanya sama Kak Lily, bagaimana di sekolah baru. “Harus lebih rajin, lebih pinter, dan lebih mandiri. Gak boleh datang terlambat, pakaiannya harus rapi, karena ada penilaiannya juga,” kata Bu Siti, yang kebetulan anaknya, Aulia, bersekolah di SD Bani Saleh 4, tetapi sudah duduk di kelas dua.

Menurut Bu Siti kepada Ibu, Kak Lily sebenarnya sewaktu di TK, bisa mengikuti pelajaran dan cepat memahami. “Tapi Lily kurang aktif, kalau gak disuruh gak mau maju kedepan, kalau gak disuruh jawab pertanyaan gak mau jawab, pemalu dan suka ngambek. Kalau lagi belajar, trus dia lagi gak cocok sama pelajaran itu, dia gak mau ngerjain. Kadang harus dimarahi dulu, baru mau mengerjakan. Masa harus dimarahi terus,” ungkap Bu Siti sambil minta maaf ke Ibu, kalau suka marahi Lily. Ibu bilang selama disekolah dan sewaktu les, hak guru untuk memarahi muridnya.

Asumsi Bu Siti sama dengan asumsi Ibu. Lily memang kurang mandiri, kurang aktif, pemalu dan suka ngambek. Dirumah saja, kalau keinginannya gak terpenuhi, dia suka bilang : “Ayah pelit. Ibu pelit. Ayah gak sayang aku.” Padahal tanpa diminta pun, kalau Ayah – Ibu melihat ada sesuatu yang berguna buat Kak Lily, suka dikasih atau dibeliin.

Untuk urusan mandiri, rasanya salah Ayah dan Ibu, baru sekarang membiasakan diri Kak Lily untuk mandiri. Setelah ada de’ Kayla, saat perhatian sudah terbagi kepada dua anak, Lily dituntut untuk mandiri. Telat memang, tapi dari pada tidak sama sekali (wah Ibu membela diri…he….he…). Dulu, kalau sekolah, baju dan sepatunya dipakaikan. Makan disuapin, minum diambilin. Pokoknya tinggal beres deh. Sekarang sih lumayan, meski masih disediain, pakai pakaian dan sepatu sudah dilakuin sendiri. Cuma tinggal makan masih disuapin, itu saja butuh waktu setengah jam buat makan.

Pemalu dan kurang aktif. Ini yang sampai sekarang bikin Ibunya kesel bin sebel sama sifat Lily yang satu ini. Mungkin warisan dari Ibunya kali yah, yang suka kagok plus cenderung diam (mengamati suasana…he…he…) kalau berada di lingkungan atau teman baru (setelah itu sih biasanya malu-maluin :D), Lily cenderung merasa aman berada dilingkungan yang sudah dia kenal. Sewaktu pertama kali masuk TK, butuh waktu satu bulan buat Lily bermain-main bersama teman-temannya yang lain. Dia hanya mau bermain dengan teman yang duduk didekat bangkunya atau yang mengajaknya berbicara. Kalau dia gak diajak bicara, bisa gak ngomong sampai pulangšŸ˜¦

Ibu kurang mengerti kenapa Lily seperti itu. Kalau dibilang kurang sosialisasi gak juga. Lily gak hanya bergaul dengan teman dilingkungan rumah, tapi juga berteman di TPA, tempat les menari dan sempoanya. Pernah sewaktu di TK, karena Lily masuk TK A di usia 3 tahun (harusnya PG, tapi karena kurang muridnya jadi digabung dengan TK A), saat harus mengulang di TK B dan otomatis teman-temannya baru karena teman yang lama sudah di SD, kalau tidak ditemani Ibu Yayah, Lily tidak mau bermain dengan teman barunya. Sampai Ibu dipanggil sama Ibu Siti untuk mengetahui apa Lily bercerita mengenai teman-teman disekolah. Ibu bilang, kalau Lily merasa kehilangan teman-teman dekatnya dan dia memang perlu waktu untuk berteman dengan teman barunya. Solusi Bu Siti, Lily didekatkan dengan dua orang anak yang kebetulan juga sama-sama gak bisa bergaul cepatšŸ™‚

Di SD sekarang ini, Lily tuh lebih memilih berteman dan bermain dengan teman satu kelas TKnya yang kebetulan juga sekolah ditempat yang sama seperti Pipit, Fitri, Dita, Zahra, Angger, Silva, Willy dan Rizki. Teman lain kelas di TK aja, seperti dia gak mau main, padahal kalau Ibu antarin kesekolah, Lily suka dipanggil-panggil sama temannya.

Untuk urusan kurang aktif, sebenarnya tergantung suasananya. Kalau orang dewasa, bisa dibilang Lily itu moody (eh anak kecil juga bisa moody kan :D). Dia gak akan mau mengerjalan sesuatu yang diperintah kalau dia gak mau. Ini sudah sering dikasih tau Ayah, gak boleh seperti itu. “Kalau dirumah sih gak apa-apa, kalau disekolah nanti nilainya jelek,” kata Ayah.

Lily juga takut dibilang salah, dia berusaha mengerjakan dengan sebaik-baiknya, jadi dia suka gak percaya diri. Ayah selalu bilang sama kak Lily, supaya jangan pernah takut salah. Kalau ada pertanyaan dari guru, langsung berani menjawab, kalau salah kan bisa diperbaiki.

Setelah ngobrol dengan Bu Siti itu, Ibu mulai terbuka pikirannya. Lily pun sepertinya setelah mendengar kata-kata Bu Siti, mengatakan sama Ibu, akan lebih berani lagi di kelas satu. “Nanti aku akan tunjuk tangan kalau ditanya. Kalau didepan kelas aku mau ngomong keras biar kedengaran sama Bu Guru. Aku juga mau temanan sama Fathiya, Nindya, Iqbal,” kata Lily. Insya Allah, di SD, Kak Lily bisa berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s