Capek Hati….

Malam minggu yang lalu, saat sedang kumpul bersama menonton TV, tiba-tiba terjadi perebutan Ibu antara Kak Lily dan de’ Kayla. Awalnya Kak Lily yang sedang asyik rebahan di pangkuan Ibu, diusir de’ Kayla, yang mungkin juga pengen rebahan. De’ Kayla dorong-dorong badan Kak Lily, supaya bangun dan pindah. “Au nda (mau indah, maksute..he…he.. gara-gara sering dengarin si Ayah manggil Ibu dengan nama sendiri). Awasss…awassss. Lily egi,” kata de’ Kayla sambil narik-narik tangan Kak Lily supaya pergi dari pangkuan Ibu.

“Adek jangan dong. Adek mah maunya menang sendiri. Kalau kakak lagi sama Mbak Iyah, adek mau juga sama Mbak Iyah. Sekarang kakak lagi sama bunda, adek mau sama bunda juga. Kakak capek hati nih,” kata Kak Lily sambil nangis sesunggukan.

De’ Kayla tetap ngak mau ngerti. De’ Kayla terus aja mengusir kakaknya dari samping Ibu. Tapi begitu melihat kakaknya menangis, de’ Kayla ikutan nangis juga. Akhirnya malam itu jadi ramai sama tangisan. Mbak Iyah turun tangan, ambil de’ Kayla untuk digendong tapi yang ada de’ Kayla malah menghentak-hentakan badannya gak mau digendong. Ayah yang ikutan gak mempan juga. De’ Kayla tetap mau sama ibunya, sementara Kak Lily gak mau ngelepasin Ibu.

Tapi begitu de’ Kayla digendong sama Ibu, de’ Kayla gak mau kak Lily ikutan. Dia maunya sendiri. Ibu bilang sama Kak Lily untuk mengalah tapi kak Lily gak mau. “Kenapa aku terus yang disuruh ngalah. Kalau siang, adek sama Mbak Iyah, aku gak apa-apa. Aku gak ngiri. Sekarang sama bunda, de’ Kayla mau juga. Adek egois,” kata Kak Lily.

Duh, Kak Lily sudah bisa bilang capek hati dan egois. Ibu saat itu cuma bisa bilang kalau de’ Kayla masih kecil, belum sekolah dan belum mengerti apa-apa, kalau kak Lily kan sudah besar, sudah sekolah dan bisa diajak ngomong seperti orang dewasa. “Aku belum dewasa, bunda. Aku masih enam tahun,” jawab Kak Lily masih tetap menangis.

Setelah dibujuk sama Ayah, akhirnya Kak Lily mau digendong Ayah. Suasana pun kembali tenang dari tangisan.

Yah begitulah punya anak dua orang. Yang dewasa aja masih saling iri, apalagi yang masih kecil. Sekarang ini tiada hari tanpa berebut. Kadang berakhir dengan pertengkaran dan menangis, kadang rukun, aman dan sentausa. Bukan hanya berebut Ibu, tapi juga mainan, tempat tidur, makanan, dan peralatan menulis jika kak Lily lagi sibuk belajar. Kadang kalau lagi bercanda ketawanya sampai terbahak-bahak.

Apa karena keduanya perempuan yah, jadi lebih sering bertengkar. Kalau beda jenis kelaminnya, apa mungkin lebih tenang ? Gimana nih, yang punya anak laki dan perempuan ?
Oh yah, Lily sekarang lagi suka panggil bunda, karena kalau Ibu katanya sama dengan Ibu Guru. Tapi lain waktu bisa manggil mami juga..he…he…sesuka hatinya.

Keadaan Ibu sendiri, yah masih begitu-begitu saja. Kadang suka kambuh, kadang baik-baik aja. Tapi dalam satu hari, pasti tangan kanan masih sering kebas (kesemutan) dan kram. Pengobatan masih jalan terus sampai dokter bilang sudah baik-baik saja (kayak lagu Ratu saja..he…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s