Musuhan…

Untuk pertama kalinya, Rabu, 9 Agustus yang lalu, Kak Lily menangis di sekolah. Ibu yang ikut masuk kedalam kelas, sempat kesel melihat Kak Lily menangis. Peristiwa itu bermula, saat kak Lily yang biasanya duduk di kursi sebelah kiri, minta duduk di kursi sebelah kanan yang ditempati oleh teman sebangkunya, Dita. “Itu kan bangku Dita, kak. Kita harus ijin dulu sama dia,” kata Ibu. “Iya aku tahu. Tapi sekali-sekali aku mau duduk disitu. Gantian,” balas kak Lily.

Kak Lily pun menaruh tasnya di bangku yang biasa diduduki Dita. Saat Dita datang, Ibu tanya sama Dita, boleh gak tukaran tempat duduk karena Lily mau duduk di sebelah kanan. Dita menggeleng kepala. “Tuh kak, Dita gak mau. Sudah kakak duduk ditempat biasa aja.”

“Aku mau duduk disitu Bun. Sekali-sekali aku duduk disitu, gantian,” kata Lily sambil matanya berkaca-kaca. Ibu bujuk Dita sekali lagi. Tapi tetap gak mempan. Lily sendiri mulai menangis sesunggukan. Dia minta duduk di kanan. Lihat Lily nangis, Ibu jadi kesel. Hampir aja tangan pengen nyubit Lily. Alhamdulillah masih sempet istighfar. Ibu ajak kak Lily keluar kelas. Dan membujuk supaya Lily mau duduk di tempat biasa.

Lily masih tetap menangis. Ibu bilang sama kak Lily, kita gak boleh maksain kehendak. Kalau temannya gak mau, Lily harus terima. “Aku gak mau duduk sama Dita Bun. Dia suka gangguin aku. Dia mau menang sendiri,” kata Lily sambil sesunggukan. “Tapi kan, kakak sendiri yang waktu itu mau duduk sama Dita. Padahal waktu pertama masuk sekolah, kakak duduk sama Fitri. Berarti kakak harus tanggung resikonya,” jelas Ibu. Lily masih menangis, waktu bel masuk berbunyi. Dia sempat gak mau berbaris. Untung Bu Nina, wali kelasnya lewat didepan Ibu dan kak Lily.

“Lho Lily kenapa, kok nangis,” tanya Bu Nina.
“Lily mau pindah duduk, di bangku yang ditempatin Dita, tapi Dita gak mau,” jelas Ibu sama Bu Nina.
“Aku gak mau duduk sama Dita bu. Dita suka gangguin aku,” kata Lily.
“Yah udah. Lily baris dulu yuk. Kasih salam sama ibunya,” kata Bu Nina.

Lily akhirnya mau berbaris. Ibu yang biasanya setelah mengantar Lily, trus berangkat kerja, hari itu menunggu sebentar sampai kak Lily masuk kedalam kelas. Beberapa orang ibu yang juga sedang nungguin anaknya, yang kebetulan teman satu kelas kak Lily bertanya kenapa Lily menangis. Ibu jelasin, Lily menangis karena mau berganti duduk tapi Dita-nya gak mau.

“Dita memang begitu, anaknya keras,” kata seorang ibu.
Ibu diam aja gak mau ikut komentar. Nanti salah kaprah lagi. Apalagi ibunya Dita gak ada. Bisa-bisa titip uang berkurang, titip omongan berlebih🙂

Sebenarnya, beberapa hari sebelum kejadian menangis di sekolah, kak Lily sudah mengungkapkan ketidak sukaannya kepada Dita. “Dita suka gangguin aku. Kalau aku lagi nulis, tanganku suka ditowel-towel. Dia ngajak main terus. Aku bilang, nanti dulu dong Dita, aku kan lagi nulis. Tapi dia trus marah. Dita gak suka kalau aku selesai duluan, Bun,” kata kak Lily.

Ibu bilang sama kak Lily kasih tahu sama Bu Nina. Kata kak Lily, sudah. Tapi nanti Dita-nya terus marah. Menurut kak Lily, kalau lagi istirahat Dita suka mendorong-dorong. “Mungkin Dita bercanda, kak,” kata Ibu. “Tapi kan sakit Bun. Aku pernah mau jatuh waktu didorong,” jelas kak Lily.

Ayah yang ikut mendengar percakapan kak Lily sama Ibu menimpali, harus sabar kan gak semua teman baik. Mungkin kak Lily juga pernah dorong Dita. “Makanya kita gak boleh kasar dan nakal sama teman, supaya gak dikasarin,” kata Ayah. “Aku gak kasar. Aku kan mainnya sama Pipit, sama Silva,” kata kak Lily. Kak Lily, ibu suruh supaya sabar, karena yang memilih duduk sama Dita, kak Lily sendiri.

Malamnya Ibu tanya sama kak Lily, apa disekolah masih nangis waktu Ibu tinggal. Kak Lily bilang nggak dan sekarang duduk sendiri. “Tapi nanti aku duduk sama Silva. Kan Silva lagi gak masuk, sakit. Dita sekarang duduk sama Yola,” kata kak Lily. “Yah udah. Sekarang kakak gak boleh nangis lagi di sekolah. Masa sudah gede nangis di sekolah. Kakak harus baik dan sabar sama temen,” kata Ibu. Lily cuma senyam senyum.

Satu masalah terpecahkan. Mudah-mudahan tidak ada masalah baru lagi disekolah. Yah, itu bagian dari pernak pernik bersekolah dan bersosialisasi. Kak Lily sekarang sudah mulai belajar berinteraksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s