The Ring, Sebuah Pembelajaran

Sedikit pelajaran buatku, selaku orang tua

Senin malam, 11 Februari 2008, gw nonton film The Ring versi Hollywood di RCTI. Nontonnya ngak fokus (cuma di bagian akhir, baru bisa fokus), karena ganti-ganti channel dengan indosiar, yang nayangin Drama Korea Full House dan Taiwan — They Kiss Again.

The Ring bercerita tentang kematian misteri rekaman video yang menampilkan seorang gadis cilik berambut panjang hitam terurai. Dari hasil penelusuran Rachel Keller, seorang wartawati, berdasarkan gambaran yang diberikan Aidan, anak Katie yang dirawat Rachel setelah kematian Katie, diketahui gadis cilik dalam video tersebut adalah Samara Morgan, anak dari pasangan Anna dan Richard Morgan.

Samara diduga mengidap kelainan jiwa karena membuat ibunya sakit dan sering bertindak aneh. Samara, yang sempat diperiksakan ke rumah sakit jiwa, merasa orang tuanya tidak memahami dirinya. Tragisnya, dengan berdalih karena menyayangi Samara dan tidak mau anaknya menderita, ibunya (Anna) mendorong Samara kedalam sumur yang dalam.

Gw rasa sudah banyaklah yang nonton film ini, bahkan film aslinya dari Jepang, yang katanya lebih serem dibanding versi Hollywood. Yang gw ingin bahas disini, adalah pelajaran yang gw dapat setelah menikmati film itu, yang seperti di akhir film kata Rachel : Kadang anak hanya ingin didengarkan dan menyatakan sesuatu.

Yup, ingin didengarkan dan menyatakan sesuatu, yang mungkin tidak masuk di akal kita, orang tuanya.

Gw sebagai orang tua, selalu kadang lupa, anak bukanlah hak milik kita seutuhnya, yang bebas kita atur-atur, kita tentukan kehidupannya, dan kita tahu segala yang diinginkannya. Anak juga mempunyai hak dan kewajiban.

Gw suka memaksakan kehendak gw, seakan-akan gw tahu apa yang diinginkan mereka. Gw suka lupa, kalau memahami anak-anak itu, kita harus sepaham dengan mereka. Berpikir dengan cara pikir mereka. Berbicara dengan cara bicara mereka.

Gw sering menganggap remeh anak-anak, karena gwlah orang tua mereka, yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan mereka. Padahal, sebagaimana kita orang dewasa yang ngak suka dianggap remeh, anak-anak pun begitu. Mereka butuh pengakuan bahwa mereka juga mampu, tanpa perlu bantuan kita.

Yup, gw harus lebih menghargai anak-anak. Harus lebih memahami mereka. Dan yang lebih penting, percaya akan kemampuan anak-anak gw, tentunya dengan bimbingan kita sebagai orang tuanya.

14 thoughts on “The Ring, Sebuah Pembelajaran

  1. Kiky : udah gw duga deh, pasti dapat tuh hadiah dari dirimu, thank u yah darling🙂

    Ragil : Anakmu memang kelihatan sensitif kok waktu ketemu kemarin🙂 ganteng lagi ngak kayak bapak’e….kekekkekekkkk

    Yutie : miss u so much, kapan-kapan kalau di yogya kita ketemuan yah🙂

    bsw : udah nonton kemarin, kan selasanya ada lanjutannya😀

    danyel : yup setuju.

    ario dipo : masa sih serem😀

    Retma : mari kita belajar jadi orang tua🙂

    silvi : terima kasih atas kunjungannya yah🙂

    Vi3 : ngak usah ngeri vi, dihadapin aja😀

  2. mbak mbak.. vi3 ini skip baca postingannya lho. vi3 bener2 parno ama yang berbau2 horor.. ngeliat iklan film the ring aja masih kebayang2 sampe sekarang.. ihhhh ngeriiiiiiiiii..

  3. hiks…hiks….baca postingan ini mengingatkan aku ama anak-anak…bener banget mbak…kita ehh…aku khususnya sebagei orang tua terkadang *kalo ga pengen dibilang selalu..he..he..* mrasa PALING tahu…apa yg terbaik buat anak-anak…

    mampiiir nih mbak…ternyata blognya owkeh deeeh…sering-sering mampir ke “rumah”kita ya mbak…

  4. Kagak sengaja mbak… biasanya kagak sengaja. Huhuhuh…😦 Berulang kali, kadang kita selalu bilang, gak mau memaksakan kehendak ke anak, mau mendengarkan anak, dll. Tapi begitu anak bikin “ulah” dikiiiiit… ajah, kadang kita dah keluar tanduk dan ilang deh tuh, komitmen kita. Hikz.. hikz.😦 **maapken ya Nak, khilaf**

  5. Coba nonton “The Ring II” deh….kayaknya bakal berubah penilainnya ttg Samara…..
    Paling tidak itu sih yang saya rasakan……🙂
    Pelajaran pertama saya pikir benar, tapi toh kemudian ada pelajaran ke dua dst….
    Selamat nonton…. He..he..he..

  6. mbak indah apa kabar juga????
    aku juga maaf, lama banget gak blogwalking.
    aku jarang updet sekarang. maklum sekarang pindah kerja.

    blog lilylankayla gimana critanya kok bisa dicolong orang…??
    sekarang blognya ganti ini kan mbak…???

    salam kangen buat sikecil ya mbak indah.kangen neh ma kabar mereka.
    titip sun sayang ya…* muaaah*

  7. Waduh, gw malah ketergantungan sama anakku. Terutama kalau di tempat baru. Soalnya “radar” dia kuat. Sensitif gitu lah mba. Ada yang bilang, anakku itu termasuk anak indigo. Bheh! gw sampe ngubek – ubek wikipedia soal indigo children. Pusing deh punya anak sensitif.

  8. bener mbak in, kadang aku suka bingung knp rai suka nakal, mnrt aku itu nakal, tapi it seems bcz he wants to be heard kali yee

    btw, iye , g puengeeeeeennnnnn bangeeeetsssss pindah kerja, abis eikeh udah bete ama ni kumpeni

  9. Endang : karena terlalu khawatir ? setuju sekali. Tapi gimana caranya menghilangkan kekhawatiran itu yah ? waks, ide postingan baru lagi nih…he….he
    Terima kasih sudah berkunjung yah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s