Tentang Pasar Becek

Setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri berbelanja kebutuhan untuk makanan ke pasar tradisional, yang lokasinya tidak jauh dari komplek tempat tinggal saya. Meski sekarang ini pasar modern (seperti supermarket atau minimarket) sudah menjamur di wilayah kami, namun berbelanja ke pasar tradisional tetap lebih menarik perhatian saya.

Dibandingkan dengan pasar modern, keadaan pasar tradisional memang tak jauh dari suasana kotor, becek kalau hujan (meski di tempat tinggal ibu saya di Jakarta Barat –> Pasar Kopro, Pasar Grogol dan Pasar Slipi, pasar tradisionalnya sudah jauh dari kesan becek) dan panas.

Belum lagi hiruk pikuk pedagang ketengan menawarkan jajaannya, serta tawar menawar antara pembeli dan penjual. Suasana yang tidak akan kita temui di pasar modern. Yang serba rapi, ruangannya berAC dan bersih.


Di pasar tradisional, pembeli dan penjual bisa menjalin keakraban dan saling mengenal. Sedangkan di pasar modern, bagaimana mau menjalin keakraban, si kasir mau tersenyum saja sudah syukur, belum lagi antrian panjang saat membayar, yang membuat kita harus buru-buru pergi setelah urusan bayar selesai.

Banyak yang bilang, mutu barang tradisional tidak sebaik kualitas di pasar modern, tapi buat saya itu semua tergantung pintar-pintarnya kita sebagai konsumen. Ngak hanya di pasar tradisional atau pasar modern, tetap saja bisa kita temui barang atau produk yang tidak baik kualitasnya.

Dengan itu semua, saya sih berharap semoga pasar tradisional tidak tergusur oleh keberadaan pasar modern yang semakin merambah wilayah-wilayah, bahkan wilayah terpencil.

23 thoughts on “Tentang Pasar Becek

  1. Wempi : wah bagus tuh😀

    Zee : semoga ngak tergusur yah say. Bener banget, di pasar tradisional tuh sensasinya beda😀

    dhie : ayo mas jalan2 ke pasar. Hari Minggu seru lho🙂

    Nenyok : setuju😀

    Linda : ah Mayestik. Kangen Bakmi Boy🙂

    Dini : setuju aja deh :p

    Andirich : thanks sudah berkunjung🙂

  2. tinggal dijaga kebersihannya aja sih, menurut saya……jadi nggak awang2en kata orang Jawa ( malas) kalo mau ke pasar tradisional…..

    ======
    Injul ke Endangpurwani
    iya setuju, biar pasar tradisionalnya tetep ada yah🙂

  3. Aku juga masih suka jalan-jalan ke pasar tradisional. Biasanya kalau mau beli daster, kaus, jilbab, baju tidur, belut, buah. Tapi selalu didampingin ibu, karena katanya aku tuh nggak pernah pinter nawar. Hihihihi…

    Btw, di Jatinegar, pasar modern-nya justru kalah sama pasar tradisionalnya.

    ======
    Injul ke merahhitam
    iya bener, Matahari aja sebelum dibakar, ngak begitu ramai yah🙂

  4. hahahaha, psar kopro??? ada juga anak blog tau pasar Kopro…=))

    tapi mbak, gue pernah kok ngalami pasar kopro yang becek, ngga ada ojyek itu…gue masih SD waktu itu. Pasar kopro itu diseblah sekolah YAdika (saat itu)

    =====
    Injul ke Kiky
    Iya sama, gue juga ngalamin yang itu. Deket Patrajasa kan. Ya iyalah gw tahu, wong gw udah karatan tinggal di Tanjung Duren :p

  5. kalo di sini, orang2 senang ke pasar tradisional utk beli sayur dan buah saja. kalo ikan, daging dll lebih sering di supermarket

    =====
    Injul ke Mamanacelia
    pasar tradisional di Perancis lebih bagus yah Lis🙂

  6. pasar tradisional sebenarnya juga bisa bersih n asri loh. kan sebenernya secara tradisi kita itu bersih, rapih n ramah. kalo becek kan tradisi yang baru2 ini…maksudnya baru sejak puluhan tahon yg lalu hehe…

    =====
    Injul ke st_hart
    heheheh… bisa aja nih🙂

  7. Sepertinya udah banyak yg tergusur ya pasar tradisional… wah, jadi inget pasar boplo dulu di daerah pusat… saya suka sekali2 ikut mama ke pasar tradisional..

    ======
    Injul ke Eucalyptuss
    Mbak Evi, di Pusat, Pasar Cikini juga enak yah🙂

  8. enaknya di pasar traditional bisa nongkrong makan nasi pecel, bakso dll *halaaahhh KGB kok ga jauh2 dari urusan perut*

    =====
    Injul to Fitra
    dasar….pecinta perut ;))

  9. pasar tradisional itu menjadikan kita sebagai makhluk sosial, karena pedagang dan pembeli berinteraksi langsung dengan tawar menawar. Sementara di pasar modern, kita menjadi robot yang hanya berhadapan dengan label harga dan kasir yang sibuk dengn tuts keyboard.

    =======
    Injul ke qizinklaziva
    yup setuju, kita jadi ngak bisa berinteraksi, misalnya untuk sekedar ber say hello.

  10. Satu lagi kekhasan pasar tradisional …
    Senggol-senggolannya itu yang tiada duanya …

    plus aroma khas … !!! (pete, daging dan kawan-kawannya)

    ======

    Injul ke NH18

    aroma sejuta rasa😀

  11. mau murah ? ya ke pasar becek…

    Bandingkan harga sepaket sayur lodeh di hypermart yang bisa mencapai Rp.6500
    di pasar becek, 6500 sudah dapet tiga paket sayur lodeh😆

    Pokoke, pulang dari pasar, ganti baju n mandi… baunya itu looooooohhh😛

    ======

    Injul ke Menik
    Hahahaha….betul…betul, baunya berbagai macam, ngak kuku😛

  12. salam
    Deal siez, gw juga seminggu sekali ke Pasar Tradisional untuk beli sayuran dan sejenisny lah pokoknya produk sayuran lokal lah, nah klo yang instan-instan atau impor2 gw milih di mini market atau mall biar berhemat, gitu lho🙂

  13. Duh jgn tergusurlah. Belanja di pasar tradisional itu punya sensasi tersendiri dibanding belanja di pasar modern. Klo di psr becek tuh,suka ketemu yg aneh-aneh,& walopun kita tahu itu barang biasa2 saja, tp tetep aja menarik, ujung2nya malah beli.
    trs jajanan2 pasar, ga semua kan ada di pasar modern.

    Tp rasa2nya pasr becek mgkn gak tergusur, krn ini bs dikategorikan budaya jg, sayang klo tergusur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s