Tentang Meremehkan

Gw baru saja menyelesaikan membaca novel remaja The Mysteious Benedict Society (Persekutuan Misterius Benedict #2), hasil karya penulis Amerika Serikat, Trenton Lee Stewart.

Trenton menulis novel itu karena merasa anak-anak itu ada, namun jarang didengarkan dan selalu diremehkan. Karena itulah, tokoh-tokoh cerita di novel tersebut adalah anak-anak yang terlihat biasa, namun mempunyai bakat yang luar biasa.

Gw nggak mau cerita tentang isi novel itu, ntar aja baca di blog ulasan buku. Gw cuma mau cerita, bahwa apa yang dimaksudkan Trenton tentang anak-anak itu ada, namun jarang didengarkan dan selalu diremehkan itu, benar adanya. Setidaknya, benar terhadap diri gw.

Bagaimana gw sering pura-pura mendengarkan cerita-cerita Lily dan Kayla, saat pulang kantor, padahal mereka antusias bercerita.

Bagaimana gw suka meremehkan anak-anak gw. Dan selalu takut mereka nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya, itu yang terjadi saat Kayla akan mengikuti test masuk kelas 1 SD.

Melihat penampilan Kayla yang suka cuek dengan urusan sekolah. Malah, ia pernah satu minggu tidak mau masuk sekolah, karena merasa bosan belajar. Gw ketar ketir, Kayla nggak akan bisa mengikuti test masuk SD, apalagi melihat teman-temannya sudah pada bisa membaca, sementara Kayla, baru sebulan terakhir ini dia bisa menuliskan namanya dengan lengkap…hehehehehe

Kalau disuruh belajar di rumah, Kayla selalu protes. “Masa, udah belajar di sekolah, di rumah belajar lagi. Cape dong, aku,” kata anak perempuan gw, yang sekarang sudah bisa naik sepeda roda 2 itu.

Karena itulah, ketika kemarin keluar hasil test masuk SD dengan nilai 85, gw merasa tertohok. Kayla yang selama ini suka gw khawatirkan bakal mengulang di TK, ternyata sukses masuk kelas 1. Anak gw, yang tidak gw dampingi saat test masuk SD, karena gw sakit, ternyata bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru pengujinya. Termasuk membaca ayat-ayat pendek Al-Qur’an dengan lancar. Alhamdulillah…

Ah, betapa meremehkan itu sangat menyakitkan.

9 thoughts on “Tentang Meremehkan

  1. Mbak, Kayla jadinya skul di mana? Aku mau masukin Nikki ke negeri neh. Katanya masuknya sih ada tesnya. Tapi pendaftaran sih nungguin UASBN kelar. Doh, masih lama. Belon bisa bernapas legaaaaa.

  2. So …
    Jangan pernah meremehkan …

    Sebetulnya bukan meremehkan mungkin …
    Tetapi kekhawatiran yang berlebihan …
    namanya juga orang tua ya …

    salam saya Injul …

    Apa khabar

  3. Waaa….tuh.. Kayla pinter kan? Ibunya ajah yg gak pede.
    Tapi…bukankah begitu sifat semua ortu? Over-protected over worried and under-estimate haha…

    Anakku paling ogah bikin PR…selidik punya selidik…lha PRnya sama spt pekerjaan di sekolah. Ya bosan dong! ehehe..

    Apa kabar Ndah? Lama bener gak saling berkunjung🙂

  4. Congrat yah tuk Kayla.
    emang naluri ibu suka gitu..ribut soal anakknya..yg diributin cuek bebek🙂 tau2 ntar suprise hasilnya. Tapi anak2 tau..kalo kita emang perhatiin mereka dan ngak meremehkan mereka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s