Belajar dari Sang Burung Biru

Kita akan mendapatkan jalan yang lapang  dan terang bila menjalankan usaha dengan kejujuran. (#SangBurungBiru – @AlberthieneE )

Kebanyakan dari kita di kala masih muda akan mendapatkan nasihat dari orangtua untuk rajin belajar, jujur, sabar dalam menghadapi segala situasi, dan mempunyai sikap pantang menyerah serta bekerja keras karena semuanya itu merupakan kunci keberhasilan di masa depan (Sang Burung Biru)

Siapa yang tak kenal taksi berlambang Burung Biru ini? Meski ada beberapa keluhan mengenai pelayanannya, namun bisa dibilang, taksi berlambang burung biru ini nyaris merajai atau nomor satu sebagai pilihan untuk armada taksi di Ibukota Jakarta!

Kepercayaan masyarakat terhadap si Burung Biru atau Blue Bird ini, tidak begitu saja diraih dan bukan dalam waktu yang singkat. Butuh waktu 40 tahun untuk menjadi kepercayaan masyarakat. Demikian hal ini saya dapatkan ketika menghadiri launching buku Sang Burung Biru, Perjalanan Inspiratif Blue Bird Group, yang ditulis oleh penulis terkenal Alberthiene Endah dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), Selasa, 29 Mei 2012.

Menurut Noni Purnomo, Vice President Business Development Blue Bird Group, ide penulisan buku ini datang dari kehidupan modern yang saat ini penuh dengan kompetisi.  “Sangat berarti bagi kami bisa membagikan cerita inspirasi yang membangun semangat generasi muda Indonesia untuk berkarya dan lebih maju lagi.” Noni Purnomo adalah generasi ketiga atau cucu dari founder Blue Bird Group.

Dalam menyusun buku Sang Burung Biru, penulis Alberthiene Endah menerapkan investigasi perasaan. Penulis tenar ini mengajak generasi muda bangsa agar bisa belajar dari semangat dan kerja keras Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, atau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Djoko, yang membawa keluarganya dalam kehidupan yang lebih baik dan tercukupi padahal saat itu dalam masa serba sulit.

Demi kehidupan anak-anaknya, Bu Djoko merintis usaha taksi dengan 2 mobil bekas miliknya, pada tahun 1965. Usahanya taksi gelap itu berjalan lancar, dan pada Mei 1972, Bu Djoko meresmikan armada taksinya dengan nama Blue Bird.  Kini, armada Blue Bird telah mencapai 22.000 unit.

Sementara itu, Rhenald Kasali, dalam diskusi tentang buku Sang Burung Biru, mengatakan dalam hidup, kita harus menjadi pengemudi atau supirnya, bukan sebagai penumpang. Kitalah yang menentukan arah hidup kita, bukan orang lain. Terkait dengan Sang Burung Biru, Rhenald menekankan bahwa kekuatan dan kebesaran suatu perusahaan bukanlah berasal dari harta-harta yang terlihat seperti banyak asset, bangunan yang berdiri kokoh di tengah kota, kendaraan, tetapi dinilai dari yang tak terlihat seperti kejujuran, kepercayaan publik, pelayanan yang sempurna terhadap konsumen.

Tak jauh berbeda, Billy Boen, seorang entrepreneur dan penulis buku, berkata dalam berbisnis, harus punya tekad. Bukan nekat!  Keberhasilan tidak dapat diraih dengan mudah dan dalam waktu singkat, kita harus mampu menghadapi situasi yang sulit. Mempunyai tekad yang kuat, perjuangan yang tiada henti dan terus berinovasi jua nilai-nilai kejujuran harus dimiliki dalam melakukan usaha!

Setelah diskusi buku, acara launching Sang Burung Biru ditutup dengan penampilan seni musik angklung dari Sekolah Kami, yang didirikan oleh Blue Bird sebagai bagian dari kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan Indonesia terutama bagi anak-anak yang tak mampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s