Kebohongan-kebohongan Mama

Kepergianmu adalah kehilangan terbesarku. Kesedihan yang susah dihapuskan, bahkan setelah dua bulan kepergianmu.

Namun, mengetahui kebohongan-kebohongan yang telah kau lakukan selama ini, sangat sangat menyakitkan hati. Hingga kini, aku selalu bertanya-tanya kenapa kau lakukan hal itu.

Kenapa seluruh hidupmu penuh dengan kebohongan, Mama?

Mama, My Best Person

Terbayang jelas dalam benakku, kebohongan pertama yang kau lakukan. “Mama nggak punya uang,” jawabmu ketika aku meminta uang jajan lebih saat masih bersekolah di SD. Aku memaksa meminta karena melihat teman-teman yang memiliki uang banyak, sementara dirimu hanya memberi uang jajan sekedarnya. Ternyata uang itu kau simpan, demi mengajak kami, anak-anakmu makan di restoran agar tahu bagaimana rasanya makan di restoran.

Kau hanya tersenyum ketika aku menuduhmu memata-matai pergaulanku dengan teman-teman, dan pria-pria yang menyukaiku. Kau bilang tidak suka melihat teman-temanku, tapi kau mengundang mereka untuk datang ke rumah, bahkan menyajikan masakan terbaikmu.

Kebohongan ketigamu, saat aku menikah! Kau bilang tidak perlu anak perempuan memakai perhiasan yang mahal-mahal ketika aku minta dibelikan kalung emas saat ingin menghadiri Sweet Seventeen Party, teman SMAku. Bukan kalung emas yang kudapatkan, tetapi seperangkat perhiasan berlian yang kau kumpulkan satu demi satu agar aku terlihat gemerlap saat menikah.

 

Mama dan Bapak

Aku heran, kau selalu mengatakan tak punya uang. Bahkan untuk membeli bajumu sendiri, kau suka ragu, berpikir lama dan akhirnya tak jadi beli padahal aku tahu untuk seorang perempuan pekerja seperti dirimu, yang menyukai keindahan, yang di masa kecilmu (seperti yang sering kau ceritakan) sering memakai pakaian baru, bukan hal yang sulit untuk membeli baju dengan uangmu sendiri. Kau berbohong tak punya uang, agar bisa meminjamkan uang tersebut kepada anak-anakmu, jika kami kekurangan uang.

Betapa sedih hati kami, saat kau berbohong mengatakan dirimu kuat, tegar, ketika Bapak pergi untuk selamanya meninggalkanmu, sendiri. “Mama nggak apa-apa, saya kuat,” ketika kami bertanya mengapa kau tak menangis sesunggukkan saat Bapak meninggal dunia.

“Sudah, saya sudah makan,” jawabmu ketika kami bertanya karena kami tahu kau tak berselera untuk makan sejak Bapak tak ada, karena selama ini Bapaklah yang kerap mengajakmu makan, mengingatkanmu bahkan memasak makanan kesukaanmu.

“Mama sakit?” tanyaku ketika melihat wajahmu pucat. “Tidak. Janganlah saya sakit. Mahal kalau berobat,” jawabmu. Ini kebohonganmu yang ketujuh, Mama! Diam-diam, kau simpan sendiri rasa sakit di perutmu yang semakin membesar. Kau tak mau mengeluh karena tak ingin membuat kami resah.

Mama dan cucu-cucu

Kebohongan demi kebohongan kau lakukan untuk menyembunyikan sakitmu, agar kami tak resah. Hingga akhirnya kau menyerah, meminta kami untuk membawamu ke rumah sakit. Dan rasanya bagai petir menyambar di siang hari, ketika dokter yang memeriksa bahwa kecil kemungkinan untukmu sembuh total bahkan dokter memprediksi hidupmu hanya tinggal hitungan jari.

Kau mengutuk dokter itu. “Apa haknya menvonis hidup orang tinggal sebentar,” gerammu. Kami hanya bisa menangis. Kami takut kehilangan dirimu. Namun, kebohongan kembali menguasaimu. “Hei, kenapa kalian menangis, saya belum mati. Perut saya ini cuma sakit biasa, karena malas makan.”

Kini, aku hanya bisa merenungi kebohonganmu yang terakhir, ketika kau pergi untuk selamanya. Kau berkata tak akan pergi meninggalkan kami secepat ini. “Lihat ini, saya sudah sehat,” katamu sambil memperlihatkan perutmu yang sudah mengecil setelah dikemoterapi.

“Saya sudah makan banyak. Saya harus terus hidup untuk melihat cucu-cucu saya besar. Saya mau menghadiri wisuda si Ririn. Saya mau pergi umroh sama kalian,” katamu di saat kita berkumpul bersama di Hari Raya Idul Fitri lalu.

Mama dan Rayya

Tapi, kau tak jujur kepada kami. Kau tak mengatakan kalau lidahmu sudah tak merasakan kelezatan makanan itu. Perutmu semakin menyiksa dan membuat dadamu sesak.

Kenapa Mama, kenapa terus menerus berbohong?

Kenapa berbohong demi kebahagiaan kami?

Kini, kebohongan itu menjadi kenangan yang paling indah bagi anak-anakmu. Kebohongan yang tak akan menggoyahkan kebahagiaan kami memiliki Mama yang terbaik, yang akan selalu mengisi relung hati. Mama yang menjadi gudang doa kami. Mama yang menjadi mata hati dan sumber kebahagiaan. I love you, Mom. Forever and Ever.

29 thoughts on “Kebohongan-kebohongan Mama

  1. Aduh, Mbak….. sedih banget bacanya. Tapi Mbak Indah harus banyak bersyukur karena sudah banyak moment yang dilalui bersama, dalam suasana yang bahagia. Orangtua memang suka begitu ya, rela menderita demi kebahagiaan anak-anaknya.

  2. Kebohongan yang manis ya, Bu.๐Ÿ™‚
    Ibunya sungguh tegar dan sangat penyayang, sperti mamahku.๐Ÿ™‚

    Selamat hari ibu. . . ^_*

    Oiya jangan lupa ikut Give away saya ya, Bu.๐Ÿ™‚

  3. ๐Ÿ˜ฅ

    speechless saya baca ini… Bunda dan anaknya sama-sama punya rasa yang sangat besar satu sama lain…

    …….. she must be so proud to have you, Mbak ^^

  4. Luar biasa utk ibunda kita, lebih tepat kalo ibu disebut-sebut sebagai “wanita paling setia”

    meskipun kita udah dewasa…meskipun udah hidup mandiri, ibunda kita selalu memikirkan kita, peduli ama kita……

    Selamat hari ibu, cintailah ibu kita, dengan sepenuh cinta… Karena Rasul saja menyebut 3 kali nama ibu sebagai orang yang patut kita hormati….

  5. Hmm kebohongan beliau adalah permata dan kasih sayang yan tak akan habis sampai kelak..

    Semoga Beliau diterima di disisi_Nya # AMIN

  6. Salam Takzim
    SELAMAT HARI IBU YA
    Semoga hari ini engkau dibahagiakan
    Semoga hari ini engkau ditinggikan
    Semoga hari ini engkau dihapuskan dosa
    Semoga hari ini engkau selalu tersenyum
    Semoga hari ini engkau selalu ceria
    Semoga hari ini engkau selalu segar
    Semoga hari ini engkau selalu sehat
    Semoga hari ini tanpa air mata
    Semoga hari ini tetap disayang
    Salam Takzim Batavusqu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s