Melukis Rindu

Kini, dering telepon bagaikan lonceng surgawi yang membahana di dada.

Tak ada lagi yang malas mengangkat, semua berlomba untuk menjadi pendengar pertama.

Suara di ujung telepon laksana guyuran hujan yang membasahi tanah kering.

Baru tiga hari memang, namun kerinduan akan dirinya tak terlukiskan dengan gambaran indah sang maestro, atau rangkaian kata-kata indah sang penyair.

“Kok serak suaramu?”

Khawatir kesehatannya menurun.

“Iya nih, kebanyakan ketawa ngakak sama teman-teman.”

Ah, ternyata begitu.

Continue reading

Precious Ones

#TaruliStories #Day2

 

 Apakah kita akan mengatakan bahwa hanya anak pintar yang dapat hidup mulia?

Apakah anak dengan nilai rapot biasa-biasa saja tak berhak menjadi orang berguna dan membanggakan?

Sungguh, sekali-kali tidak…

Bahwa Allah telah memberikan kelebihan yang berbeda pada masing-masing anak kita.

Hanya…

Bisakah kita…

Sebagai orang yang dipercaya…

mampu membuat anak-anak semakin bersinar dengan talenta yang telah Allah anugerahkan pada mereka…

dengan potensi kesholihan mereka…

Dan semua kebaikan yang ada pada mereka…

(A.Saccharosa)

Dikutip dari Pondokku, Rumah Kedua Anakku

Pondok Pesantren Modern Islam Assalam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, 2012

Doa yang Terkabul

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya! Apalagi mengenai masalah pendidikan. Sekarang ini, sudah bukan jamannya lagi orangtua memaksakan kehendaknya kepada anak. Anak bebas menentukan mau bersekolah di mana ia nanti.

image

Tahun ini, si sulung, Taruli, tamat dari SD. Tak terasa, umurnya akan 12 tahun.

Continue reading

Berbagi Teman

“Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya” (berbagai sumber)

Beberapa waktu lalu, sulung saya, Taruli, bercerita tentang temannya, yang menurutnya sudah berubah. “Dia nggak seperti dulu, apa-apa cerita sama aku. Kayaknya dia punya teman lain, yang lebih seru,” kata Taruli. Meski berusaha menutupi perasaannya, tapi saya tahu dia sedih dengan persahabatannya itu.

Waktu itu, saya bilang sama dia, meski kalian bersahabat, tapi setiap orang punya keinginan sendiri, termasuk keinginan untuk berteman dengan yang lainnya, meski ia sudah mempunyai teman dekat. “Mungkin, sekarang dia merasa lebih enak berteman dengan si A, kamu nggak boleh marah atau iri.”

Continue reading

Penulis Cilik ? Siap !

Tanggal 3 dan 4 Juli, nganterin si sulung mengikuti pelatihan menulis KKPK di kantor redaksi Mizan, di Jalan Cinambo, Bandung.

Amazing, yang ikut pelatihan banyak banget, sekitar 46 anak. Tiga kali sudah Mizan menyelenggarakan pelatihan menulis untuk produk mereka : Kecil Kecil Punya Karya (KKPK), dan selalu mendapat respon yang mengagumkan dengan banyaknya peserta calon penulis cilik yang ikut.

Mereka, calon penulis cilik, antusias banget mengikuti pelatihan. Beda dengan orang dewasa, mereka, calon penulis cilik saling berebutan mengungkapkan ide penulisan mereka, ketika kakak pemberi materi menjelaskan tentang mencari ide menulis.

Yang lebih seru lagi, ketika tiba sessi “kursi panas”, dimana ide yang mereka tuliskan dibahas bersama-sama, mereka tidak takut atau pun malu-malu. Mereka bersemangat duduk di “kursi panas”

Dan, ide-ide yang mereka ungkapkan sangat fantastis, tidak kalah dengan ide orang dewasa. So, buat para penulis dewasa, hati-hati dengan keberadaan calon penulis cilik ini. Pelan tapi pasti, mereka akan menggusur keberadaan penulis-penulis dewasa, terutama penulis yang tidak kreatif :)

Dodol Conversation (1)

Ada yang merasa seperti saya ngak ? Kalau anak disuruh belajar, makan, mandi, dan sebagainya pasti banyak gurindamnya. Atau kalau ngak, seperti yang dibawah ini.

“Mbak Lily, belajar dong, jangan main aja.”

“Sebentar lagi Na. 10 menit.” (gurindam pertama)

15 menit berlalu.

“Mbak Lily, belajar dong.”

“Beliin tolak angin Na.” (gurindam kedua)

“Tolak angin ? Emang Mbak Lily sakit ?”

“Orang pinter minum tolak angin.”  

note : anak saya yang kepinteran ngelak, atau iklan yang menyesatkan ?

Growing Pain ?

Photobucket Sudah hampir seminggu, mbak Lily suka mengeluh sakit pada anggota tubuhnya. Kalau ngak sakit di kaki, yah sakit kepala atau pusing, atau juga sakit badannya pegel semua.

“Ina, hari ini (Senin, 11/2/200), aku ngak usah sekolah yah,” kata Mbak Lily saat gw sedang siap-siap mau berangkat sekolah.

“Kenapa ngak sekolah?” tanya gw.

“Kakiku sakit, lemes, pegel-pegel gitu deh”.

“Makanya jangan banyak main. Hari libur tuh dipakai buat istirahat, bukan lari kesana kemari. Udah sekarang kamu istirahat dulu, kan hari ini masuk jam 9 ? Ngak boleh ngak sekolah. Lagian ini hari Senin, kok udah ngak masuk,” kata gw panjang lebar.

“Yah Ina…aku kan cape,” Lily pun ngambek.

“Sekali ngak, tetep ngak,” gw bersikeras. “Kalau badanmu panas sih ngak apa-apa ngak sekolah. Ina juga enak minta ijinnya ke Bu Asih. Ini kamu ngak apa-apa kok, cuma kakinya pegel aja. Udah istirahat dulu sana.”

Lily pun tetap bersekolah. Cuma gw jadi kepikiran aja, ini merupakan yang kesekian kalinya Lily mengeluh kesakitan di keseluruhan badannya.

Gw pun browsing dan menemukan informasi yang bisa dikatakan seperti terjadi pada Lily. Informasi itu bertajuk Growing Pain. Banyak orang tua yang ngak menyadari tentang growing pain ini. Oh yah, growing pain ini bukan penyakit yah, tapi bisa dibilang sejenis sindrom.

Growing Pain itu, adalah nyeri pertumbuhan. Ngak berbahaya, tapi bisa membuat anak tersiksa. Situs kidshealth.org mencatat, 25 hingga 45 persen anak mengalami hal seperti ini dan Growing Pain tak dapat dicegah kedatangannya.

Growing pain bisa terjadi kapan saja, cuma kalau anak lagi seru bermain, ngak bakalan ngerasain keadaan seperti itu. Tapi lebih banyak menjelang anak tidur, jadi ngak heran kalau anak selalu minta dipijit atau dielus-elus kakinya.

Nah, untuk memastikan hal itu, gw dan Mas Iwan lagi berpikir untuk bawa mbak Lily ke dokter. Konsultasi. Semoga ngak ada apa-apa.