Yang Terlupakan

Gw lupa kalau tanggal 9 Oktober lalu, wedding aniversary gw dan Mas Iwan yang kesembilan.

Ha…ha… emang bener-bener deh gw berdua. Hari penting seperti itu yang buat orang bakal ngak dilupakan, gw dan Mas Iwan malah baru keingetan semalam pas lagi melihat tanggal untuk langganan becak Taruli.

Ya seperti harapan2 yang sudah seiring kita dengar dan mungkin buat sebagian orang terasa basi… : semoga langgeng sampai kaken niken, gw dan Mas Iwan berharap sekecil apapun kerikil semoga tidak menghalangi jalan menuju kebahagiaan dan kelanggengan…Amiiin

Jadul dan Jasek

Gara-gara dengarin Iradio yang lagi nayangi lagu-lagu jaman dulu (jadul), seperti lagunya Maria Julius Sitanggang, Titip Rindu Buat Ayahnya Ebiet G Ade, dan lain-lain, gw jadi teringat jaman sekolah di SD, SMP dan SMA di tahun 80 dan 90-an.

Sebagai seorang anak cewe, gw merasa dulu itu ngak ada anak yang ngak suka sama yang namanya produk sanrio seperti Hello Kkitty, My Melody, Little Twin Star, atau produk Woodstuck seperti Snoppy, Garfield, juga MashiMaro, Pido Dido, Sansan Wawa, Pikacu dan Hallmark.

Kalau anak cowo, seinget gw produk-produk Jepang gitu deh, seperti Voltus, Goggle Five, Gaban, Sarivan, Megaloman, dan lain-lain

Kalau sekarang ? Anak-anak cewe pada doyan Barbie, Dora, Mobukoru Boo dan Nomokurobo, Strawberry Shortcake, Power Puff Girl, Minnie, dan banyak lagi yang susah gw sebutin satu persatu πŸ™‚

Co ? karena gw ngak punya anak cowo, jadi ngak tau :))

Dah ah segitu aja, ada yang mau nambahin ? cerita donk, dulu sukanya apa πŸ™‚

Jakarta, Sorga Neraka Dunia

Itulah salah satu lirik dari Lenggang Lenggok Jakarta, yang setahu gue dipopulerin sama penyanyi cantik yang mendapat julukan “Mutiara dari Selatan”, Andi Meriem Matalatta.

Di ulang tahunnya yang 480 tahun, Jakarta memang sudah tua sekali, makanya itu makin macet, makin ruwet, makin banyak bangunan tinggi pencakar langit, yang jelas penduduknya makin bertambah aja.

Bagi gw yang dari umur satu tahun tinggal di Jakarta (lahir di Medan, trus langsung dibawa merantau ke Jakarta sama Nyokap Bokap…he…he..), perkembangan Jakarta itu, bisa dibilang dalam hitungan detik. Gw yang sejak tahun 2001 tinggal di Bekasi Utara (perbatasan Jakarta dan Bekasi, makanya jangan salah kalau gw masih tetap merasa orang Jakarta), suka terheran-heran dan takjud, karena setiap berkunjung kerumah Mama di Daan Mogot, sepanjang perjalanan pasti ada pembangunan. Entah itu pembangunan gedung untuk perkantoran atau mall.

Menurut gw, perkembangan Jakarta yang paling gila-gilaan tuh dimulai dari tahun 1990. Gimana ngak, dulu sekitar tahun 85-an aja, seinget gw, ngak ada tuh yang namanya Citraland Mall, Taman Anggrek Mall, Senayan, Plaza Indonesia, dan mall-mall prestisius lainnya.

Gw yang sejak kecil tinggal di wilayah Jakarta Barat ( pertama tinggal di Tomang, trus pindah ke Tanjung Duren, dari tahun 1986 sampai sekarang tinggal di Jalan Damai, Daan Mogot), dulu cuma kenal yang namanya pasar bukan mall. Pasar Grogol, Pasar Kopro, Pasar Blok M, Pasar Senen, Pasar Pagi Mangga Dua, dan Pasar Tanah Abang. Gw paling sering diajak Mama ke Pasar Senen, karena disana ada tempat permainan anak-anak yang namanya Istana (Dunia) Bobo. Ada yang masih inget ngak ?

Pasar Tanah Abang tuh ngak seperti sekarang. Dulu tuh morat-marit. Kalau belanja hari Sabtu atau di bulan puasa, bokong sama bokong (maaf yah) bisa ketemu. Mangga Dua apalagi. Dua pasar yang memang sudah terkenal murah sejak dulu itu, selalu jadi inceran kalangan menengah keatas dan juga yang berduit. Cuma Mangga Dua tuh belum ada ITCnya. Karena tempatnya di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara, orang cenderung malas kesana kalau ngak ramai-ramai. Atau untuk kepentingan dagang.

Oh yah, Mangga Dua itu kan deket sama Mangga Besar, yang dari dulu memang terkenal sebagai tempat prostitusi selain Kramat Tunggak dan Kali Jodoh. Di Mabes juga paling banyak diskotik dan tempat judinya. Bisa dibilang tuh daerah, nerakanya Jakarta. Mungkin karena itu kali yah, Mabes tuh dari jaman dulu sampai sekarang tempatnya kumuh.

Makanan cepat saji aja, yang terkenal cuma Kentucky Fried Chicken (KFC), yang biasanya satu lokasi sama tempat jualan es krim Swensen. Ini dulu tempatnya di Gelael, Slipi (sekarang jadi Hotel Peninsula) dan Pasar Blok M. Kalau dah jajan disini, serasa orang kaya πŸ™‚

Oh ya, dulu gw suka mainnya ke Jakarta Selatan dan Pusat, karena Jakarta Timur dan Utara itu, serasa tempat jin buang anak. Daerahnya serem dan menurut orang-orang, katanya kumuh. Sorry nih buat anak-anak Jakarta Timur dan Utara πŸ˜€

Dulu tuh alat transportasi cuma oplet, bemo, helicak, becak, bus PPD, sama bajaj. Mobil belum banyak, apalagi motor. Bayangin aja, dari rumah di Tanjung Duren main ke Roxy, jalan kaki masih enak. Kalau punya duit yah naik becak, padahal jaraknya tuh 1 KM.

Kalau mau nonton film, untuk orang Jakarta Barat bioskopnya tuh paling bagus yah Bioskop Roxy, juga Musiana. Kalau mau nonton film India dan film Barat, silahkan berkunjung ke daerah Jakarta Pusat, disana banyak bioskop. Sebut saja Bioskop Megaria, Duta dan Grand (didaerah Senen), sama yang terkenal bioskop Indianya Rivoli. Mau mahalan dikit yah nonton di Jakarta Theatre.

Sekitar tahun 86-87 keatas, baru deh gw ngerasa ada mall. Yaitu di Slipi Jaya dan Blok M Mall. Nah berbarengan dengan itu, mulai ada deh bioskop 21. Mulai deh sering main-main kesana. Mulai kenal juga tempat gaul yang namanya Apotik Karya (tempat kumpul anak-anak Jakarta Selatan yang borju). Universitas Trisakti dan Tarumanegara tuh ngak sebagus sekarang. Pokoknya sampai tahun 1994, Slipi Jaya dan Blok M Mall, tempat main yang paling sering dikunjungi. Oh ya, ada deh Sarinah, tapi karena tempatnya ngak begitu luas, jadi suka males aja kesanan.

Kalau liburan sekolah, ke Ancol cuma mau lihat pentas lumba-lumba sama singa laut, karena Dufan belum ada. Ke Taman Mini, cuma buat santai, naik kereta api mini dan kereta gantung. Biar miskin tempat wisata seperti itu, tapi udara Jakarta masih enak, makanya sering jalan-jalan ke Taman Suropati dan danau di Jalan Lembang.

Begitu tahun 90-an, pelan tapi pasti, Jakarta udah mulai terasa sumpek. Mulai banyak mobil, motor, bus mulai banyak macemnya, becak tergusur, oplet apa lagi udah ngak ada. Semakin banyak mall, semakin banyak penduduknya. Walikota Jakarta Barat aja yang tadinya di Jalan S. Parman, pindah kedaerah Kembangan, jadi bikin sulit terjangkau. Kecuali untuk orang Kedoya, Cengkareng, dan sekitarnya.

Kadang-kadang gw suka terpikir, betapa enaknya Jakarta yang dulu. Tapi gw berkembang kok, dari yang tadinya cuma anak-anak, eh sekarang punya anak. Jadi wajar tho, kalau Jakarta juga membangun dirinya. Mungkin kali yang diperlukan ditingkatkan atau digali lagi adalah prilakunya. Misalnya budaya antrinya semakin digalakkan, gotong royongnya (orang Jakarta semakin sibuk cari duit, jadi sebagian orang udah ngak kenal tetangganya termasuk gw, yang ngak kenal lagi dengan tetangga2 ditempat tinggal ortu) dan menghargai sejarah karena sejarah adalah bagian dari perjalanan manusia. Jangan sejarah malah diluluhlantakan seperti bangunan-bangunan bersejarah yang dijadiin mall, sayangkan ?

Megaria Nasibmu Kini

Disalah satu milis, yang saya ikuti beredar berita bahwa Bioskop Megaria, yang terletak di Jalan Pegangsaan No 21, Jakarta Pusat, samping Stasiun Kereta Api Cikini, deket sama RSCM, dan ngak jauh dari Kantor Pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP), bakal dijual.

Beritanya seperti ini :
—– Original Message —–
From: “BrianChang” <canciht@yahoo. com.sg>
Subject:[isc-starlet] Dijual bangunan eks bioskop Metropole ( Megahria) jalanPegangsaan No 21

> Dijual bangunan eks bioskop Metropole ( Megahria) jalan Pegangsaan No 21( Diponegoro) / sebelah rel KA Cikini Jakarta seluas11.623 m2 @ Rp.15juta/m2.
Sudah ditawar orang Rp.11 juta/m2.
Kalau ada yangnawar diatasRp.11 juta atau minimal Rp.13 juta/m2 akandilepas.

>> Yang berminat bayar DP 50%, pelunasan dalamwaktu 5 bulan, karena lantai 2 masih dikontrak orang (minta waktu 5 bulanuntuk pengosongan) .
>> Mediator dapat fee 5%,jadi ngak usah dinaikkan lagi harganya.
>> Bersama iniditampilkan perhitungan komisinya :
>> LUAS>11.623
>> Harga/m2> 13.000.000
>> TOTAL>151.099.000. 000
>> Total komisi>7.554.950.000
>> Kalau mediator 5 orang>1.510.990.000
>>> Kalau mediator 6 orang>1.259.158.333
>>> Tolong friend, siapa tahu banyakkenalan ama konglomerat. Kalo minat,tolong reply ke site ini atau langsungcontact Ferry +62 (81) 5827-2690(ferry@muliabrothers .com)
>>Buat gambar certificatenya bisa liat di:> http://indorealesta/ tes.com/index. php?board= 9.0

Duh, miris membacanya. Satu lagi gedung tua dan bersejarah akan hilang. Semoga saja ngak dihancurin jadi mall, tapi direvitalisasi sehingga bangunannya menjadi lebih kokoh dan modern.

Buat aku sendiri, Megaria itu banyak banget memorinya. Karena bioskop itulah, pertama kali diajak Bapak nonton. Trus sewaktu aku masih sering liputan, yang berkesan banget saat penyerbuan ke kantor PDI, baru pertama jadi wartawan, masih bodoh-bodoh. Trus masih senang disuruh kemana-mana termasuk kerusuhan, dan menginapnya di Megaria…he…he…

Sewaktu pacaran, entah kenapa aku selalu memilih nonton di Megaria. Oh yah, aku tuh kalau pacaran, ngak pernah jalan-jalan loh…he…he… Paling tinggi yah nonton itu πŸ™‚
Nah di Megaria, ada warung makan, yang jual ayam kecapnya endang bambang gulindam, trus ada somay dan es kelapa yang tak kalah yummy. Jadi lengkap deh. Abis nonton trus makan πŸ™‚

Oh yah, terkait dengan penjualan Megaria itu, aku ingat saat wawancara dengan Direktur Eksekutif Gedung Arsip, Tamalia Alisjahbana (putri pendekar sastra Sutan Takdir Alisjahbanam, ada tiga hal utama dalam menjaga dan merawat gedung-gedung bersejarah. Yaitu : sebagai identitas nasional, sifat khas suatu bangsa atau daerah dan sebagai bagian ekonomi bangsa.

Kata Tamalia, dari gedung-gedung tersebut kita bisa melihat sejarah atau cerita tentang bangsa kita sendiri. Gedung bersejarah itu mempunyai sifat khas suatu daerah. Kalau tidak, semua tempat atau kota akan terlihat sama yaitu kota beton.

Jadi, untuk tidak jadi kota Beton, bagaimana kalau kita dukung segala rencana untuk membongkar gedung-gedung bersejarah. Atau kalau punya kenangan tentang Megaria, cerita-cerita dong ?

Untuk Nikahmu

Duapuluh lima usiamu

cukup dewasa untuk membina keluargamu sendiri

Namun tak cukup bagiku

untuk kehilanganmu

Karena Mama harus bekerja

kamilah, yang mengasuhmu

Mengajarkan sholat pertamamu

membacakan dongeng kesukaanmu

Jika aku menangis, adikku

bukan karena tak rela

tangisku adalah kebahagiaan

doa untukmu dan kekasihmu

Agar bahagia dan bersatu

dalam suka dan duka

Kalianda siang, 180207

Di Hari Lahirmu

Terima kasih untuk cintamu

untuk menjadi kekasihku

jadi ayah kebanggaan anak-anak

Terima kasih atas hari-hari indah

berlukiskan suka dan duka

Atas pengertianmu yang tak tergantikan

Kesetiaan yang kadang membuatku menangis

bahagia memilikimu

Meski tak ada lilin ulang tahun
atau kue buatan tanganku
bahagia tetap terlihat di matamu
ucapan dan cium selamat ulang tahun dari kami
seperti katamu, adalah hadiah terindah
selain anugerah kesehatan dan keselamatan dari Yang Esa

Selamat ulang tahun Ama
Selamat ulang tahun Mas Oes

Kalianda pagi, 180207