Tiger Mom’s

Kayla di Kidzania, JKT

Setiap anak perlu pendekatan yang berbeda-beda, karena mereka memiliki karakter yang unik, berbeda satu dengan yang lainnya.

Membaca artikel dari The Jakarta Post, membuat saya berkesimpulan, masih banyak yang perlu dipelajari sebagai orangtua. Oh ya, Bu Enny Edratna pernah juga membuat tulisan dengan tema yang nyaris sama, dengan artikel di koran harian berbahasa Inggris itu.

Ini link artikel Bu Enny : Percakapan Ringan

Eight ways to be a tiger mom

Nury Vittachi, Bangkok | Sun, 01/30/2011 3:33 PM | Opinion

Asian kid living in London enters home. His school friends shout: “Happy birthday! Surprise!” The kid continues on his way to his room, saying: “I have homework. Enjoy the party. I may join you later.”

That’s a true story. That kid was me. I wasn’t being obnoxious. Asian kids are rigidly conditioned to a) study;  b) have bad haircuts; c) like maths; and d) eat foods that other kids find disgusting like dried squid or sliced, char-grilled dissident. My upbringing did me no harm at all, except to turn me into the drooling, unstable, gun-polishing, stairwell-lurker that I am today.

These days I live in Asia and half the moms I know are Tiger Moms (a term popularized by US monster-mom Amy Chua), while others take a kinder, gentler stance. Let’s compare them.

Continue reading

Advertisements

Idola Baru

Dan, semangat bangga atas tim nasional sepakbola Indonesia, mempengaruhi anak-anak juga.

Anak-anak pun punya idola baru : Irfan Bachdim, Gonzales, Nasuha, Firman Utina dan Markus Harison.

Tapi, yang paling menghebohkan ya si Irfan Bachdim itu. Bahkan berita tentangnya pun masuk ke Majalah Bobo.

Sekarang, banyak anak mulai suka nonton bola, setidaknya bermain bola sore-sore di lapangan kompleks, pada saat liburan sekolah seperti kemarin 😀

Continue reading

Nama

Ini adalah postingan adik gw, Wahyu, di blognya sehari setelah kelahiran Kayla (19 Desember 2004).

Sekarang, tepat hari ini, Kayla berumur 5 tahun. Sudah bersekolah di TK B, TK Bani Saleh 1.

————–

Sabtu kemarin, ponakanku yang baru lahir. Saat lahir ia menangis, seperti jutaan bayi lainnya. Wajahnya putih dan rambutnya hitam. Kakakku amat bersyukur karena ia berhasil melewati proses yang amat menyakitkan itu. Diantara semua kebahagiaan itu, saat ini semua keluargaku tengah sibuk-sibuknya mencari nama bagi ponakanku ini. Mama sibuk mencari nama-nama yang berbau batak.

Continue reading

Jam Masuk Sekolah Maju ?

Mulai 1 Januari 2009, dengan dalih untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta dan agar para siswa sekolah tidak merasa lelah ketika proses belajar mengajar, Pemda DKI Jakarta berencana memajukan jam masuk sekolah, dari selama ini pukul 07.00 pagi menjadi 6.30, mulai 1 Januari 2009.

Efektif atau tidak memang belum terbukti, karena penerapannya baru akan berlaku tahun depan. Namun, yang dipertanyakan kenapa harus mengorbankan anak-anak untuk membenahi sistem transportasi di Jakarta yang sudah carut marut ?

Sebagai orang tua, membangunkan anak-anak pada pukul 5 pagi saja, sudah menjadi beban tersendiri, karena merasa kasihan membangunkan mereka disaat terlelap dan bagaimana jika mereka kurang tidur.

Continue reading

Be Famous : Anak or Ortu ?

Photobucket Dalam babak Top 12 American Idol 7, penampilan David Archuleta tidak terlalu menggembirakan. Menurut Simon, David menyanyi dengan jelek, apalagi ia sampai lupa salah lirik dari lagu “We Can Work It Out”.

Buruknya penampilang David diduga karena stress akibat ulah sang bapak, Jeff Archuleta. Katanya nih, sang bapak sering menekan David agar selalu tampil sempurna, bahkan ngak jarang membentak dan berteriak atas cara bernyanyi David.

Akibat ulahnya, Jeff pernah dibanned oleh media karena mengasari seorang peserta berumur 10 tahun, dalam acara pencarian bintang, yang diikuti oleh David.

Kasihan… ini orang tuanya atau anaknya yah yang pengen jadi bintang 😦

Gw sendiri, saat jadi juri audisi dalam acara-acara yang digelar tempat kerja gw, sering menemukan hal seperti diatas. Bahkan dalam salah satu audisi yang baru-baru ini digelar (AFI Junior 2008, Mamamia dan Stardut 2008), gw menemukan hampir 40 % peserta yang ikut karena ambisi orang tuanya.

Anak didandanin bergaya orang dewasa (pake lipstik, pemerah pipi, alis plus baju yang sesuai dengan umurnya misalnya : tank top dan sepatu tinggi padahal anaknya baru berumur 8 tahun).

Masih mending kalau suaranya bagus, ini disuruh do re mi fa sol la si do aja, malah dibaca bukan dinyanyiin. Udah gitu, kalau kita acak tuh solmifasol, kalau anak yang ngak ikut kursus menyanyi, maaf-maaf nih, ngak tau tuh solmifasol. Heran gw, apa di sekolah ngak diajarin lagi yah not balok dan solmifasol. (Untung di sekolah anak gw, ada pelajaran musik)

Belum lagi nih, begitu disuruh nyanyi eh yang dinyanyiin malah lagu-lagu dewasa yang sedang ngetop sekarang seperti Menjaga Hatinya Yovie and Nuno, lagunya Ungu, Peter Pan, Matta, dsb. Ini sih biasanya, anak-anak yang belajar nyanyi secara otodidak. Kalau anak yang ngikutin kursus menyanyi, pasti udah gape nyanyiin lagu anak-anak seperti Kasih Ibu, Bintang Kecil, Naik Becak, Ambilkan Bulan, dan sebagainya.

Dan buat anak-anak yang menyanyikan lagu dewasa, untuk tempat kerja gw, meski suaranya bagus, tiada ampun lagi, udah ngak masuk hitungan. Bukan apa-apa ini kan kompetisi nyanyi lagu anak-anak (AFI Junior) ! Kalau mau nyanyi lagu dewasa, yah silahkan ikut Mamamia atau Stardut, gampang kan 🙂

Gw pahamlah, siapa sih yang ngak pengen terkenal apalagi jika sukses dan meraup uang hingga berjut-jut (bisa dipakai buat mandi, dijadiin sabun, kayak Paman Gober), tapi mbok yah sebagai orang tua kalau memang anak kita punya bakat, yah jangan asal disuruh tanpa dibekali pengetahuan. Kalau anak mau ikutan audisi lagu anak-anak, yah diajarin dong lagu anak-anak.

Jangan bilang ngak ada lagu anak-anak, banyak kok !. Jangan salahkan Agnes Monica, Tasya, Eza Yayang, Bondan Prakoso, Trio Kwek Kwek, Melissa, Geoffany, dan Joshua yang sudah jadi remaja tanpa meninggalkan pewarisnya bernyanyi lagu anak-anak, kecuali Boneka Susan, yang emang ngak bakalan gede.

Jangan salahkan sekolah, yang sekarang udah jarang ngajarin anak bernyanyi satu persatu didepan kelas (jaman gw SD, sampai2 karena malu suara jelek, bukannya nyanyi malah gigit2 kuku…he…he..) , bisa kan kita sebagai orang tua nyanyiin lagu-lagu anak-anak yang kita tahu, sambil nidurin anak atau sambil main (Biarin aja kalau ada yang bilang suara jelek dan kalau nyanyi mayat-mayat dikuburan bangkit), yang penting anak kita tahu lagu anak-anak.

Punya anak berbakat memang aset. Aset itu semakin berharga kalau dibentuk dan dibekali pengetahuan yang baik, tidak asal jadi. Yuk mari bernyanyi…..