Impian Setelah Resign

Setelah nggak kerja, rasanya banyak banget yang mau gue lakuin.

Jalan-jalan aka traveling ke tempat-tempat di seluruh penjuru Indonesia yang belum pernah gue kunjungi.

Trus, pengen juga belajar fotografi, siapa tahu ntar bisa jadi wedding fotografer *halah*

Pengen belajar bikin kue, yang canggih tapi. Kalau sekedar bikin kue nastar mah, Insya Allah bisa, ini pengen bikin kue yang moel cake bertema seperti barbie gitu, supaya bisa bikin sendiri pas ultah anak, dari pada pesen ke orang lain.

Continue reading

Merenda Masa Depan

Kemarin, gue blogwalking ke rumah maya sobat gue, De (Mama Rafa dan Fayra). Di blognya, De bercerita tentang kepindahan mereka ke rumah barunya, ada juga tentang aktivitas berenang sulung mereka, Mas Rafa.

Dari postingan tentang rencana pindah rumah, gue nyimpulin bahwa mereka udah merencanakan segala sesuatunya dari jauh hari.

Bagaimana rumah mereka yang lama, direncanakan untuk ditempati selama lima tahun, bagaimana mereka merencanakan liburan keluarga, dan pendidikan anaknya.

Salut buat orang-orang yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk merenda masa depan.

Karena menurut konsultan perencana keuangan di salah satu radio (duh lupa namanya perempuan perencana keuangan itu, terkenal deh), kita harus merencanakan dengan seksama keuangan kita (Ah, pasti udah taulah, cuma susah praktekinnya ya).

Menurut dia, kalau misalnya kita ingin berlibur satu keluarga, kalau bisa ya pakai uang yang memang dipersiapkan untuk berlibur, bukan mengambil dari tabungan reguler, sehingga saat pulang liburan malah tongpes. Ibaratnya, kita harus punya tabung A untuk pendidikan anak, tabungan B untuk liburan, tabungan C untuk naik haji….hihihi, Amiin…amiin.

Banyak juga ya, secara satu tabungan aja, perasaan untuk pengeluaran sehari-hari aja udah mepet :D

Gue sendiri gimana ? Hehehehehe, gue dan suami baru tahap merenda pendidikan anak-anak. Gue dan Mas Iwan sudah merencanakan bahwa anak-anak akan melanjutkan pendidikan menengahnya di Yogyakarta, kota asal Mas Iwan. Kalau bisa sih SMU di SMU 1, dan kuliah di UGM, Amiiin….amiiin. *berkhayal*

Tabungan untuk rencana yang lain sih belum ada, karena tabungan yang ada selalu jebol buat keinginan yang lain, misalnya nih mudik nanti saat liburan sekolah anak-anak :D

SPMB vs UMPTN

PhotobucketMasalah pendidikan di Indonesia, kayaknya ngak habis-habisnya yah. Kalau ngak masalah kurikulum yang selalu berubah-ubah, masalah gaji guru terutama guru honorer, sekolah rusak/roboh, dan yang paling ngebetein masalah ujian masuk perguruan tinggi.

Seperti yang lagi dipolemik-in sekarang, adalah Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) vs Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Seperti yang diberitakan disini : dengan alasan dana tidak transparan, 41 perguruan tinggi negeri (diantaranya IPB, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Semarang, Institut Teknologi Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya), menolak mengikuti SPBM dan akan melakukan penerimaan mahasiswa baru secara mandiri.

Kalau udah gini siapa yang dirugiin ? Yang jelas para siswa kelas 3 SMU, terutama yang punya dana terbatas untuk masuk ke perguruan tinggi swasta. Siswa-siswa itu pasti bingung dengan adanya dua sistem itu. Apalagi jika ada pembatasan, siswa yang ikut SPMB ngak boleh ikut UMPTN dan sebaliknya :(

Jadi inget waktu jaman gw sekolah, angkatan diatas gw ngerasain yang namanya IPA – IPS, nah pas jaman gw masuk SMU berubah tuh menjadi A1, A2, A3 dan A4 (bahasa) dengan ujian masuk perguruan tinggi lewat jalur UMPTN dan PMDK.

Entah kenapa berubah lagi tuh (ganti menteri pendidikan, ganti model — kurikulum), jadi IPA – IPS. Malah sekarang nih gw merasa tambah parah, karena ada embel-embel segala pada sekolah misalnya nih : Sekolah Unggulan, Sekolah Percontohan, Sekolah Rintisan Unggulan, Sekolah Unggulan berbasis internasional, dengan metode pengajaran bahasa pengantarnya bahasa Inggris bukan bahasa Indonesia dan siswanya belajar pakai laptop (ini nyata, ada dideket rumah gw, SMP Negeri 5 Bekasi, yang katanya sekolah unggulan dengan akreditasi A Nasional). Biayanya ? jangan ditany, yang gw tau anak tetangga gw masuk dengan biaya Rp 5 juta dan uang sekolah Rp 250 ribu per bula (eh di Jakarta lebih mahal lagi, SMUN 8 itu malah Rp 14 juta).

Gw jadi berpikir, ntar jaman anak gw SMU, modelnya seperti apa yah dan berapa besar biaya yang harus gw keluarin. Tapi untungnya (he…he..masih ada untung), gw dan Mas Iwan udah planning, untuk SMU dan Perguruan Tinggi, anak-anak bakal sekolah di Yogyakarta, setidaknya biayanya masih lebih irit dibanding Jakarta (jangan diukur dengan sekolah Budi Mulia punya Pak Amien Rais yah…he…he…)

pic diambil dari sini

Bekal Masa Depan

Resiko kerja di stasiun TV, apalagi kalau bukan di Departement Produksi, yah kudu nonton televisi sepanjang jam kerja kecuali istirahat. Yah dibayangin aja, di ruang gw ada 4 televisi yang bernyala semua tapi suaranya ngak ada kecuali teve yang nayangin acara kantor gw :D

Satu acara yang gw suka nonton adalah tayangan iklan. Jangan tanya kenapa, yang pokoknya gw seneng aja ngeliatnya apalagi kalau iklannya heboh seperti iklan rokok dengan jargon sejati itu.

Dan satu iklan yang menurut gw menyentuh lubuk hati terdalam ada iklan dari Bank Mandiri yang menyajikan tema “Merencanakan Masa Depan”.

Salah satu iklan yang lagi gencar ditayangkan yaitu tentang masa kuliah. Iklan itu pertama kali memperlihatkan tulisan “Untuk Biaya Masuk Kuliah”. Diperlihatkan seorang anak remaja cowok, yang membuka garasi rumahnya. Dan sang ayah keluar dari garasi tersebut dengan mendorong motor Vespanya. Si anak memandang ayahnya dengan tatapan sedih.

Kemudian muncul sang ibu, yang membawakan payung dan jas hujan, dan ditengah hujan sang ayah berangkat dengan tatapan haru ibu dan anak. Tak lama tersorot tulisan “Rumah Ini Dijual”.

Deg, gw terharu banget. Jadi ingat cerita-cerita orang tua dan banyak orang sukses lainnya (mungkin), yang mana akan melakukan segalanya untuk keberhasilan anaknya. Gw inget, Mama pernah cerita bahwa supaya bisa menyekolahkan dua anaknya ke Pulau Jawa (yang saat itu tahun 60-an, memang terkenal sebagai tempat pendidikan paling oke), kakek gw terpaksa menjual kebunnya, yang selama ini menjadi penunjang hidup keluarga besar kakek gw, selain mesin jahit (Ompung Doli gw profesinya dulu tukang jahit dan sesekali buka toko nasi tiap ada pekan atau hari pasar).

Karena pengalaman itulah, nyokap selalu menekankan ke anak-anaknya untuk menabung atau menyisihkan sedikit uang yang kita dapat, untuk bekal di masa depan.

“Jangan sampai anak-anak merasakan kesusahan yang kita rasakan. Menabunglah karena dengan uang tabungan kita akan bisa melakukan apa yang kita inginkan,” demikian kata Mama suatu hari kepada kita, anak-anaknya.

Gw ngak bermaksud untuk promosiin bank itu, tapi gw berpendapat apa yang diutarakan dalam iklan itu memang tepat. Bagaimana pun kita harus punya persiapan untuk menjalani masa depan.

Buat gw, kita (yang bekerja yah) sebagai orang tua wajib mempersiapkan dana pendidikan buat anak kita setinggi mungkin (universitas). Dan gw rasa di jaman secanggih ini, kayaknya ngak ada istilah ngak tau tentang perencanaan pendidikan atau merencanakan masa depan. Karena banyak bank atau asuransi yang sudah menawarkan berbagai macam perencanaan dengan segala macam embel-embel keuntungan yang akan kita peroleh.

Bagaimana kita mengatur dan merencanakannya ? yah kembali ke kemampuan dan motivasi kita masing-masinglah.