Quality Time di Akhir Pekan

Berkegiatan bersama keluarga di saat weekend atau akhir pekan, bisa membuat berbagai hal positif meningkat dan berbagai hal negatif berkurang!

Orangtua yang sering melakukan kegiatan bareng anak-anaknya di#wiken bisa mencegah prilaku seksual pranikah remaja!

Menarik kan?

Bukan saya lho yang bilang, tetapi seorang psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, Psi,  yang menyimpulkannya dari tesis-tesis yang dilakukan dan dibacanya.

Menurut Anna Surti, dengan meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga, komunikasi yang baik antara anak dan orangtua akan terjalin. Orangtua memiliki kesempatan untuk mengajarkan nilai-nilai dan perilaku positif kepada anak dalam suasana yang santai dan penuh kebersamaan.

“Kondisi ini akan berdampak positif dalam meningkatkan rasa percaya diri, mandiri, disiplin, dan anak-anak lebih sehat secara fisik dan mental, atau bahkan cenderung semakin berprestasi di sekolah,” demikian dikatakan Anna dalam acara Kampanye Cool Weekend Selection, yang diluncurkan oleh Wall’s Selection.

Ditambahkan Anna Surti, peran orangtua, terutama ibu sangatlah penting! Ibu akan lebih mengetahui kegiatan akhir pekan yang disukai dan diinginkan oleh anak-anaknya, sehingga dapat dipersiapkan sejak awal minggu. Kegiatan keluarga dapat dilakukan di dalam maupun di luar rumah!

Continue reading

Advertisements

Belenggu

Berbagi.

Pada saat kita lahir, hati manusia berwarna putih. Namun, menjadi hitam karena manusia dibelenggu oleh sifat-sifat yang tak baik.

Sifat-sifat yang membelenggu itu, terjadi sesuai dengan perkembangan kita, manusia. Malas, marah, iri hati, pengeluh,  pembosan, dengki, buruk sangka, sombong, dan lain-lainnya. Yang tanpa sadar, sering kali kita lakukan.

Supaya hati kita tak berwarna hitam pekat, kita harus melepaskan belenggu itu.  Tidak mengulangi atau melakukan sifat-sifat itu, meminta ampun kepada Tuhan, meminta maaf kepada orang yang kita sakiti. Bisakah kita melakukannya ?

Insya Allah, semoga bisa!

Sharing ini saya dapat dari sulung kami, Taruli, yang kemarin mengikuti pelatihan ESQ Ary Ginandjar di Menara 165, Jakarta Selatan. Hari ini, hari kedua pelatihan.

Continue reading

Buku-buku (3)

Numpang nampang ya 🙂

On store: Princess Mushawwira dan Benang Warna-warni

Seri Princess

Sinopsis :

Demi menghindari peperangan di kerajaannya, Princess Mushawwira memberikan upeti kepada Negara Masiana. Upeti tersebut dibuatnya sendiri. Upeti apakah itu ?

Keunggulan :

– Mengajak anak mengenal Asmaul Husna secara menyenangkan

– Melatih dan mengembangkan kecerdasan lingual anak sejak dini

– Memperkaya imajinasi anak-anak melalui kisah princess yang lebih islami.

Itu buku anak-anak.

Yang ini adalah buku yang ditulis bareng-bareng (ada 18 penulis). Berkisah tentang jumpalitannya para mom’s dalam urusan pekerjaan, rumah tangga dan keluarga.

Continue reading

Tiger Mom’s

Kayla di Kidzania, JKT

Setiap anak perlu pendekatan yang berbeda-beda, karena mereka memiliki karakter yang unik, berbeda satu dengan yang lainnya.

Membaca artikel dari The Jakarta Post, membuat saya berkesimpulan, masih banyak yang perlu dipelajari sebagai orangtua. Oh ya, Bu Enny Edratna pernah juga membuat tulisan dengan tema yang nyaris sama, dengan artikel di koran harian berbahasa Inggris itu.

Ini link artikel Bu Enny : Percakapan Ringan

Eight ways to be a tiger mom

Nury Vittachi, Bangkok | Sun, 01/30/2011 3:33 PM | Opinion

Asian kid living in London enters home. His school friends shout: “Happy birthday! Surprise!” The kid continues on his way to his room, saying: “I have homework. Enjoy the party. I may join you later.”

That’s a true story. That kid was me. I wasn’t being obnoxious. Asian kids are rigidly conditioned to a) study;  b) have bad haircuts; c) like maths; and d) eat foods that other kids find disgusting like dried squid or sliced, char-grilled dissident. My upbringing did me no harm at all, except to turn me into the drooling, unstable, gun-polishing, stairwell-lurker that I am today.

These days I live in Asia and half the moms I know are Tiger Moms (a term popularized by US monster-mom Amy Chua), while others take a kinder, gentler stance. Let’s compare them.

Continue reading

Berbagi Teman

“Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya” (berbagai sumber)

Beberapa waktu lalu, sulung saya, Taruli, bercerita tentang temannya, yang menurutnya sudah berubah. “Dia nggak seperti dulu, apa-apa cerita sama aku. Kayaknya dia punya teman lain, yang lebih seru,” kata Taruli. Meski berusaha menutupi perasaannya, tapi saya tahu dia sedih dengan persahabatannya itu.

Waktu itu, saya bilang sama dia, meski kalian bersahabat, tapi setiap orang punya keinginan sendiri, termasuk keinginan untuk berteman dengan yang lainnya, meski ia sudah mempunyai teman dekat. “Mungkin, sekarang dia merasa lebih enak berteman dengan si A, kamu nggak boleh marah atau iri.”

Continue reading

Things to-do List

Pernahkah teman menyusun rencana apa yang akan dilakukan hari ini atau seminggu ke depan?

Atau adakah diantara teman yang menyusun kegiatannya selama seminggu atau sebulan dalam suatu agenda ?

Saya, hingga kini masih menjalankan sesuatu tanpa direncanakan, di luar tentunya kegiatan sehari-hari yang sudah pasti, seperti urusan rumah tangga dan anak-anak.

Continue reading

Oooh: Hukuman Itu !

“Anak usia 0 – 7 tahun belum berhak dimarahi karena otaknya belum bersambungan”

Demikian dikatakan Ibu Elly Risman, Psi dalam seminar “Disiplin dengan Kasih Sayang”, Sabtu, 9 Oktober lalu, yang saya ikuti.

Seminar yang mengungkapkan banyaknya “kebobrokan” yang dilakukan saya sebagai orang tua, sehingga saya merasa “ih kelakuan gue banget”. Seminar yg sukses membuat saya merasa tertampar.

Ibu Elly Risman mengatakan orang tua cenderung menegakkan disiplin dengan cara memberi hukuman atau hadiah.

“Kalau salah dihukum, kalau baik diberi hadiah.” Ini salah, teman-teman !

Cara itulah, menurut Bu Elly malah membuat anak tidak bertanggung jawab dengan dirinya, dan membuat anak mengharapkan “pembayaran” bagi kerjasamanya.

Menurut Bu Elly, anak bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan karena : belum mampu, ingin tahu, capek, lapar, sakit, bosan, canggung, atau sekedar minta perhatian, lagi pengen nge-test atau unjuk diri, dan bisa karena aturan di keluara yang tidak jelas.

Untuk menerapkan disiplin, orang tua harus membuat anak merasa lengkap, hargai anak karena dirinya bukan apa yang dilakukannya, dorong anak dan berikan semangat, bantu anak bahagia dan bermakna bagi orang lain.