Satu Kalimat

Rindu

Kirimkan satu kalimat

isyaratkan rindu

Agar aku tahu

Rindu ini bukan milikku sendiri

24/2/2007

Kalau sekarang ada twitter, 140 kata sudah cukup ya ūüôā

Advertisements

Setahun Sudah

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah setahun saya berhenti sebagai pegawai kantoran.

Bagaimana rasanya? Jangan ditanya soal ngasuh anak ya, setiap perempuan yang punya anak, baik itu kerja di kantoran atau di rumah, punya gaya sendiri-sendiri dalam mengasuh anaknya.

Kalau rasa bagaimana tidak bekerja kantoran, untuk saya masih menikmati. Karena terbebas dari bangun dini hari untuk buru-buru berangkat ke kantor. Terbebas dari kemacetan Jakarta, yang sepertinya semakin menggila. Terbebas dari deadline yang bikin jantungan.

Banyak kebebasan lah. Yang jelas, kalau anak-anak libur sekolah, udah nggak perlu pusing-pusing lagi menghitung cuti yang tersisa, dan bebas bergaul dengan teman-teman, yang dulu sangat susah dilakukan.

Yang nggak bebas apa? Duit, hahahaha

Continue reading

Fimela Luncheon

Sabtu, 16 April 2011 lalu, saya dan beberapa teman blogger dari Kopdar Jakarta, diundang Nuniek Tirta, Community manager Fimela.com untuk menghadiri acara Fimela Luncheon di Pesto Autentico, UOB Plaza, UG Floor, The Podium at Thamrin Nine, Jl. MH Thamrin No. 10.

Sebelum hari H, Nuniek mengirimkan reminder, dan mengingatkan dress codenya adalah : Smart Elegant based on your own personal style.

Oh ya, di signaturenya Nuniek dijelaskan : FIMELA¬†Luncheon¬†adalah sebuah project editorial rutin yang mengundang satu atau beberapa kelompok wanita yang saling berteman untuk berbincang satu topik tertentu sambil hang out di restoran/caf√©. Liputan dari acara ini akan mengisi rubrik tetap di kanal “Work & Lifestyle” FIMELA.com.

Saya dan tiga teman lainnya (harusnya berlima, tetapi satu orang baru datang menjelang akhir acara), mendapat tema diskusi Ambisius dan Persamaan Hak. Dipandu Riri, salah seorang editor in chief Fimela.com, kami berdiskusi tentang apa yang kami ketahui tentang feminism, apakah masih perlu di era digital ini.

Continue reading

Belenggu

Berbagi.

Pada saat kita lahir, hati manusia berwarna putih. Namun, menjadi hitam karena manusia dibelenggu oleh sifat-sifat yang tak baik.

Sifat-sifat yang membelenggu itu, terjadi sesuai dengan perkembangan kita, manusia. Malas, marah, iri hati, pengeluh,  pembosan, dengki, buruk sangka, sombong, dan lain-lainnya. Yang tanpa sadar, sering kali kita lakukan.

Supaya hati kita tak berwarna hitam pekat, kita harus melepaskan belenggu itu.  Tidak mengulangi atau melakukan sifat-sifat itu, meminta ampun kepada Tuhan, meminta maaf kepada orang yang kita sakiti. Bisakah kita melakukannya ?

Insya Allah, semoga bisa!

Sharing ini saya dapat dari sulung kami, Taruli, yang kemarin mengikuti pelatihan ESQ Ary Ginandjar di Menara 165, Jakarta Selatan. Hari ini, hari kedua pelatihan.

Continue reading